CHOICES

Tampilkan postingan dengan label EDUCATION. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EDUCATION. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Mei 2013

Second of May


Second of May, education day. Yesterday as I had such preliminary sessions in my application to a private school in Kotabaru, Jambi, I found one memorable question I had to answer in my form saying “What’s your main intention in being an educator?”

That question keeps hitting me up to this moment since this is the very relevant day of time to talk and contemplate a lot about my personal passion on ed. I feel a very huge gratitude as I had my college study on education, specifically English education, so I can have such an opportunities to gain more understanding of ed in this country. I chose the study program merely because the background on education and teaching would give me such a good prospect for a job in the future, I guessed. Being a good teacher once also was my obsession, but my experience in teaching a senior high school for several months in 2010 changed everything.

I then knew there’s a huge problem happening in our ed, mainly about the teachers. Some of the people out there call teacher as a struggler since they have to work a lot for such a lack of welfare, in many cases. Many times I feel regretful in my study choice as I find many of ex-classmates have such a very prospective job and life though they do not have a degree I have recently. I also find out that engineering and science studies will give people a higher jump for their career. However, I still believe that this is my own path.

Referring back to the question in the beginning of this writing, I should admit it that I cannot still figure out how to separate the definition of a teacher and that of an educator. But this is something really clear that I want to be an educator, not merely a teacher. I guess my opinion on the definition of a teacher here is still influenced by the facts I found out there about their lacking welfare. So in essence I reckon that they are the same. I don’t know who finds the term ‘teachers’ for our educators. But how can you be a teacher when you don’t educate? This will be difficult to determine.

Well, I can also say that to teach is to make people know while to educate means to make people understand, speculatively.

This is my answer for that question, if I’m not mistaken: I want to make better human beings and individuals. I want to make people gain their understanding of life and their existence, and their optimism in dealing with everyday problems.

8.14 am.

    

Jumat, 01 Maret 2013

GURULAH MASALAHMU


Dengan adanya kurikulum 2013 yang banyak dianggap terlalu terburu-buru atau gegabah oleh masyarakat kini, maka muncul pulalah berbagai opini tentang apa permasalahan utama dati pendidikan di negeri kita ini. Pemerintah mungkin menganggap kurikulum yang belum sesuai dengan visi misi kebangsaan sebagai hal terpenting, sehingga mereka hobi sekali melakukan revisi kurikulum yang terdengar seperti coba-coba.

Bila menyoroti keadaan ini, maka bias dibilang pendekatan  yang dilakukan kini adalah top down, sebagai guru di pihak terakhir yang mesti menyesuaikan diri, tentunya. Sekarang coba pikirkan, siapa pihak pertama yang menjadi tumpuan pendidikan? Guru, bukan? Mengapa kita tidak mencoba berpikir secara bottom up. Dan jikalau sebelumnya telah ada kurikulum KTSP di mana sekolah diberikan kebebasan untuk membuat standar sendiri, mengapa tidak memberikan kebebasan pada guru untuk juga membuat standar sendiri?

Ya, meski tak semua guru kompeten dalam menyamakan standar pendidikan, setidaknya dengan kebebasan itu mereka lebih mampu meningkatkan kemampuan dan terutama moral siswa, walau hanya sedikit.

Pembelajaran besar tak mesti dari sesuatu yang besar dan terjadi drastic  atau cepat. Mengertilah makna sebuah proses.

1 Maret.  

Jumat, 20 Juli 2012

Illustrated Journal Writing of SMP N 2 Kalasan Students, Yk


Nine pictures below are the result of illustrated journal writing activity 
done in a junior high school in Yogyakarta.











Minggu, 15 April 2012

Personal Writing of an UAN Hater

Tomorrow, Indonesian students will have to face once more a terrible nightmare called UAN. This is probably not the first time or year I pray to God that this gonna be the last one to hold, cause as you can see there, on TV, anywhere, this event gives an abundant burden to our kids!

This morning, for instance, there's a report saying a school held  a pengajian to prepare the students' mentality in dealing with the exam. Some fainted in that occasion, some just cried their tears down in a depth of sadness. Is this what education means to create? Tears? Such a burden?

I been in this condition long time ago. Now, I am an opposition to this practice. Hey, educators! Are you blind and deaf? Look at these kids! How would you say about their future? Why don't you guess and think a while what this will give effect on them. If it's not sumthing bad, yes, it's NOTHING!

Education should be addressed with love and fun. This fucckin UAN doesn't reflect any of this essence! Hey, my majesty, what are you doing up there?! This is totally a disgrace! Why don't some of you take a glance at those cloudy faces, that depressed ones. They are too young to hand this responsibility. That will end on only a STATISTIC DATA?!

TOTALLY DISGRACE!

Senin, 26 Maret 2012

Antara Pendidikan dan Bisnis


Masing-masing hal memiliki sebuah sistem ada di dalamnya. Terkadang sistem hal tersebut dapat juga diterapkan dalam hal lain, karena pada dasarnya banyak hal dalam hidup ini terkait satu sama lain dalam sebuah filosofi, dan pemikiran. Namun kita tak akan membahasnya begitu dalam.

Pendidikan kini mungkin bisa dikatakan terlalu jauh dari esensi awalnya, di mana ia diciptakan untuk memanusiakan manusia. Ia kini seakan tampak ada untuk memaksa manusia untuk menjalani segala berbagai macam cara dan aturan ketat, demi iming-iming kehidupan sejahtera yang dapat ia berikan tiketnya pada kita. Siswa harus melalui berbagai macam proses penyaringan hanya untuk masuk sekolah. Siswa harus meminta banyak uang pada orang tuanya, agar ia dapat mengenyam pendidikan pada level tertentu. Namun, kini yang tampak miris adalah terkait hubungan antara pendidik dan peserta didik. Bagaimanakah anda melihat hubungan keduanya? Adakah yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada yang lain?

Pendidikan seringkali mengajarkan kita untuk berlaku adil terhadap sesama. Namun, apakah begitu juga yang terjadi di dalam bidang pendidikan itu sendiri? Sekarang, para pendidik seakan merupakan bos bagi para peserta didiknya. Siswa harus menuruti semua yang dikatakan dan diperintahkan oleh sang guru. Apakah sudah seharusnya demikian?

Sekarang kita gunakan logika kita, dengan sedikit mengkaitkannya dengan prinsip dan sistem dalam dunia bisnis. Dalam pendidikan, siswalah yang membayar, dan gurulah yang dibayar oleh instansi. Akan tetapi mengapa seakan tak ada keadilan di sini? Dalam bisnis, seseorang yang membayar adalah sang konsumen. Dan konsumen adalah raja. Ia harus diperlakukan dengan baik. Produsen seharusnya ketakutan apabila ia kehilangan kliennya. Tetapi tidak begitu yang terjadi dalam pendidikan. Atau mungkin bisnis dan pendidikan memiliki prinsip yang berbeda? Saya kurang tahu.

Ada yang mengatakan bahwa siswa harus menghormati guru, karena mereka lebih tua, atau karena mereka adalah sumber ilmu yang kita inginkan. Tetapi, hei, ingatlah bahwa mereka memang dibayar untuk itu! Kita sebagai peserta didik lah yang seharusnya membela diri kita. Menuntut imbalan yang setara atas apa yang telah kita berikan. Hubungan hormat-menghormati memang sudah seharusnya terjadi, namun, saya melihat itu sebagai sesuatu yang di luar prinsip keduanya. 

Saya hanya membandingkan keduanya, tanpa benar-benar mengerti bagaimana yang seharusnya terjadi di dalam pendidikan. Akan tetapi, setidaknya kita sedikit memiliki pemikiran tersebut. Agar kita tak terjebak dalam suatu profesi, tanpa mengerti esensi utamanya.

Hidup para peserta didik!
With much love and happyness,
November 8th, 2011, SALC

Kamis, 26 Januari 2012

Di Depan Gerbang Sekolah Itu Ia 'Mendidik'


Terbangun karena sebuah keharusan membantu seorang kawan, saya merelakan tubuh saya yang kurang tidur ini untuk menuju ke sebuah sekolah di dekat rumah.

Tadi pagi, saya sampai di sekjolah tersebut tepat beberapa saat setelah bel berbunyi, dan saya berbarengan dengan beberapa siswa yang berlarian menuju sekolah. Yang tidak saya ketahui sebelumnya adalah bahwa di depan gerbang itu telah berdiri sang wakil kepala sekolah, 'menyambut' siswa-siswa tersebut. Satu hal lagi yang tidak terpikir lagi oleh saya, adalah bagaimana waka tersebut menanggapi keterlambatan siswa tersebut. 

Dengan ekspresi yang penuh amarah, ia mendesak siswa untuk segera memasuki kelas. Bapak itu benar-benar marah, terlihat dari sorot matanya yang jauh lebih mengerikan dari biasanya saya lihat. "Ora kapok-kapok!" katanya pada seorang siswa. Ia kemudian seolah menggebuk punggung siswa lelaki itu, yang kemungkinan juga sering terlambat. 

Saya pun memasuki sekolah dengan sedikit perasaan malu, kaget, dan marah.

Tak hanya itu, ternyata masih ada satu guru BK yang mengawasi siswa-sisw terlambat tadi di dalam sekolah. Dan pertanyaan saya hanyalah begini. Simple saja. Inikah namanya pendidikan?

Mungkin ada di antara anda yang berpikir, beberapa sekolah dengan segala permasalahannya terkadang membutuhkan metode pendidikan layaknya militer. Walau tidak sepenuhnya. Tapi, sekali lagi, saya ingin bertanya, apakah militer itu juga bisa disebut dengan pendidikan? 

Secara pribadi, setelah menyadari sedikit lebih dalam tentang pendidikan, saya sadar bahwa selama ini saya tidak pernah mengenyam pendidikan. Saya hanya DIAJAR. Saya tidak pernah merasa diajari secara resmi tentang bagaimana untuk belajar, menjadi manusia yang lebih baik, dan memiliki tujuan hidup. Saya belajar dari hubungan personal, dan pengalaman. Bagaimana dengan anda?

Terlalu banyak hal untuk dikatakan. Namun saya hanya berharap bahwa apapun yang terjadi dalam 'pendidikan' kita, selalu ada yang lebih baik. Keadaan selalu berubah. Lucu kalau apa yang siswa pelajari, dan bagaimana cara mereka belajar tidak berubah. Kau cuma pendidik tua yang hidup nyaman di dunia modern. Saya berpihak pada peserta didik. Itulah mengapa saya dapat membenci seorang pendidik/guru, walau saya sendiri merupakan calon guru. Tidak. Itu hanya pilihan terakhir hidup saya. Jangan pernah menjadi guru kalau kau belum siap memberikan pengabdianmu dengan maksimal. Keluar dari sekolah kalau di situ kamu cuma mencari uang. Kau tak lebih budak sistem yang tak beres.

Astaghfirullah...

Saya tiba-tiba teringat raut wajah penuh gejolak di depan gerbang sekolah itu. Semoga anda tak darah tinggi, pak. Amin.

Jumat, 16 Desember 2011

Apa Itu Scrabble? (1)

Saya secara pribadi memang belum lama mengenal permainan ini, namun setidaknya mungkin dengan sedikit berbagi tentangnya, dapat memberikan inspirasi bagi anda, terutama para pengajar bahasa Inggris di negeri ini.

Scrabble adalah suatu bentuk permainan yang berbasiskan dari penggunaan kosa kata bahasa Inggris (vocabulary). Permainan ini sebenarnya belum terlampau luas dikenal oleh para pengajar maupun pelajar di Indonesia, dikarenakan distribusi dan mahalnya perlengkapan permainannya yang berlisensi. Dalam hal ini, Scrabble tidak hanya melibatkan pemikiran akan strategi, seperti layaknya pada catur. Lebih-lebih, dengan bermain Scrabble kita dapat memperluas cakupan kebahasaan kita dalam bahasa Inggris, dan juga sebagian bahasa dunia lain, karena bahasa Inggris pada dasarnya adalah bahasa dunia. Banyak kata dalam bahasa Inggris yang diserap dari bahasa lain.

Dalam hal ini, anda harus mengenal beberapa istilah yang terkait dengan Scrabble, seperti yang di bawah ini:

tiles: seperti yang anda lihat pada gambar, balok kecil yang bertuliskan huruf dan nilai tersebut, adalah tiles.

bingo: seperti sebuah jackpot, atau bonus, yang bisa anda dapatkan jika anda dapat mengeluarkan seluruh tiles anda pada satu kesempatan jalan. Dengan itu, anda akan mendapatkan nilai tambahan sebanyak 50 poin.

Scrabble dapat dimainkan oleh 2-4 orang. Namun biasanya untuk turnamen internasional, sistemnya adalah face-to-face, atau 2 orang. Untuk menentukan giliran, biasanya salah satu pemain akan meletakkan tiles secara terbalik,sebanyak jumlah pemain. Kemudian tiap pemain akan memilih satu tile secara acak. Barangsiapa yang memiliki tile paling dekat dengan huruf A, maka ialah yang akan mengambil 7 tiles pertama dan memulai permainan dengan katanya.

Untuk permainannya, akan dilanjutkan pada posting berikutnya.
Terima kasih,

With much love and happiness,

Kusuma

Jumat, 09 Desember 2011

PARA PEMUDA PENGUBAH PERADABAN


unichemindustries.org
 Banyak yang melihat bahwa pendidikan kita saat ini sebagai sesuatu yang cukup memprihatinkan. Dengan berbagai permasalahan dan kontroversi yang ada di dalamnya, makin banyak orang yang terlibat dalam pendidikan mulai terpancing untuk memusatkan perhatiannya pada berbagai hal yang jauh dari esensi asli pendidikan, sebagaimana ia dahulu digagas oleh para pemrakarsanya.
Pendidikan sejatinya berpusat pada diri peserta didik. Merekalah tujuan utama adanya hal tersebut. Namun kini banyak yang lebih menyoroti tentang beberapa hal ‘besar’ seperti kesejahteraan guru, sistem kurikulum, dan lainnya. Perlahan namun pasti, peserta didik menjadi korban dari perhatian mereka yang teralihkan itu. Apabila kita melihat hal ini, apakah pendidikan masih bisa kita andalkan sebagai aspek atau bidang yang mendasari perubahan dan perkembangan bangsa ini?
Saat ini, kita jarang sekali menemukan seorang figur yang benar-benar mampu mengalihkan perhatian kita pada kebanggaan atas pendidikan Indonesia. Ada begitu banyak orang  yang berjuang dengan caranya sendiri untuk memajukan pendidikan Indonesia. Namun, lagi-lagi, baik pemerintah maupun media tampak kurang memperhatikan bentuk perjuangan tersebut.
Memanglah tidak mudah untuk membuat sebuah perubahan besar. Namun itulah mungkin tujuan dari hidup: bukan untuk mencapai sesuatu, namun untuk berjuang mencapainya, meskipun itu kadang tak harus terwujud. Begitu pula dalam pendidikan, di mana banyak orang telah bertumpu untuk menciptakan sebuah kehidupan yang lebih baik. Pendidikan tidaklah seharusnya terecoki dengan berbagai hal yang dapat merusak hakikatnya sebagai dasar pengembangan diri kita sebagai bagian umat manusia.
Terkait dengan hal ini, mahasiswa, sebagai salah satu pihak yang berada di dalam ranah pendidikan ini, bukan berarti hanya memiliki porsi dan peran yang kecil untuk menciptakan perubahan bangsa. Justru, mahasiswa dengan segala pemikirannya yang masih mampu untuk berkembang jauh, adalah potensi terbesar bangsa ini, dan juga barangkali di dunia ini. Mungkin akan sulit untuk menggeser dominasi kaum senior, karena mereka merasa bahwa merekalah yang sudah sepatutnya diberikan tempat karena pengabdian mereka yang telah begitu lama. Sistem senioritas seperti ini, tentulah dapat sangat mempengaruhi bahkan memperlambat perkembangan bangsa ini. Mahasiswa dan juga para pemuda lainnya sudah pada seharusnya untuk diberikan kesempatan untuk memberikan perbaikan dengan berbagai gagasan dan kerja kerasnya.  
Karena itulah, barangkali kini, para pemuda umumnya dituntut untuk tidak takut mengungkapkan ide cerdas mereka terkait perbaikan bangsa. Tentunya hal tersebut haruslah juga tidak mengganggu pihak-pihak lain. Mereka pun diharuskan untuk membuka cara berpikir dan sudut pandang mereka sendiri dalam memandang suatu hal. Dengan berbagai hal yang semakin cepat berkembang, para pemuda, khususnya mahasiswa memiliki kesempatan yang sangat besar untuk belajar lebih banyak. Kini semua kembali pada diri mereka sendiri, dan bagaimana cara untuk membangkitkan hasrat mereka demi kebaikan bangsa kita nan tercinta ini.


Minggu, 04 September 2011

Dosa Meminta Bantuan?

Saya memiliki seorang teman yang sering meminta bantuan saya dalam mengoreksi tata bahasa tulisannya dalam tesis. Ia pun terkadang mengatakan bahwa ia takut apakah ia bisa dicap buruk karena hal itu. Ia adalah orang yang baik.

Saya katakan saja bahwa yang perlu ia takutkan adalah plagiarisme. Dan menurut saya, apa yang saya lakukan hanyalah bentuk bantuan saya sebagai seorang teman, dan terkadang profesional. Tidak ada yang perlu ditakutkan.

Dosa apabila anda mengambil tulisan orang lain dengan mentah-mentah, demi untuk anda pakai dalam tesis atau karya ilmiah lain yang anda buat. Namun, apakah meminta bantuan atau saran itu juga tak diperkenankan?
Tesis tidak dapat dikerjakan sendiri. Di lapangan, bahkan kita memerlukan bantuan dari instansi atau seorang kolaborator. Sebagai contoh, seorang dengan penelitian kuantitatif pasti akan membutuhkan keahlian seorang pengolah data statistik untuk pekerjaannya. Cukup mustahil bila ia harus menghabiskan waktu memperlajari SPSS terlebih dahulu. Hubungan kerjasama mereka pun dapat berupa profesional atau bisnis, atau hanya kekerabatan, apabila beruntung.

Bagi anda yang barangkali memiliki persepsi sama dengan teman saya itu, segeralah cari bantuan! Jangan menutup diri dan merasa kita mampu mengerjakannya sendiri. Dan ingat, jangan plagiat.

With much love and happyness,
March 4th, 2011, 05.35 in the morning.

Buku, Menulis, Membaca

Saya yakin bahwa kita telah cukup terbiasa, walau sebagian memang karena terpaksa, dengan sebuah benda bernama buku. Kehidupan sebagai civitas akademika memang menuntut kita untuk berdamai dengan benda fenomenal tersebut. Mau tak mau.

Dahulu, saya tidak pernah begitu dekat dengan buku. Rasanya sekarang juga tidak terlalu. Namun satu hal yang bisa saya pastikan apabila saya tak pernah mengenal buku dengan lebih dekat: Saya tidak akan tahu apa yang akan saya lakukan dengan hidup saya.

Keterlibatan saya dalam kehidupan teks sebenarnya tidak pernah saya perkirakan sebelumnya. Dikarenakan perkataan seorang dosen, ”Masa, anak SD Qoriyah Tayyibah saja mampu menulis sebuah buku, kalian tidak bisa?” Sejak saat itu, saya mulai menulis apapun. Namun pada awalnya semua hanyalah obsesi untuk menghasilkan sebuah karya. Saya tidak pernah tahu apa dampak yang saya dapat kemudian.

Menulis membuat kita membaca. Karena itulah, saya mulai mendalami bagaimana orang-orang menulis. 

Terutama mereka yang telah cukup dikenal. Dari situlah, saya kemudian dapat memahami banyak hal yang ada di luar jangkauan diri saya sebelumnya. Yang tidak pernah saya dapatkan di dunia keseharian saya.
Hal-hal yang didapatkan dari membaca itulah yang membuat saya pada akhirnya lebih memahami diri saya sendiri. Saya membayangkan betapa saya adalah seorang anak ingusan yang tak mengerti apa-apa sebelum saya menemukan perubahan diri tersebut. Entah apa yang akan terjadi dengan kehidupan saya, bila hal itu: menulis, membaca, dan buku, tidak pernah saya cerna baik-baik.

Mereka adalah hal-hal yang telah mengubah hidup saya. Lalu, mengapa saya tidak mengabdikan hidup saya untuk memberika pengalaman yang serupa bagi orang yang lebih banyak?
Saya mohon, cobalah, paling tidak untuk menulis.

With much love and happyness,
March 17th, 2011

Pendidikan Seperti Apa?

Setiap pukul tujuh pagi, akan ada anak-anak muda yang berbondong-bondong memadati  jalanan, baik dengan motor mereka sendiri, ataupun diantar oleh keluarga mereka ke sekolah. Banyak dari mereka yang memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi hingga terkadang hanya berjarak puluhan sentimeter dari kendaraan-kendaraan lain.

Saya sering berpikir, apakah yang ada di dalam benak anak-anak itu? Apakah mereka pergi atas kehendak hati mereka akan sebuah pendidikan? Ataukah itu hanya sebuah rutinitas yang harus mereka lakukan demi tidak mendapat ‘hukuman’, apapun itu bentuknya? Saya membayangkan, mereka sampai di sekolah, bertemu dengan teman yang senantiasa mengisi hari-hari mereka. Barangkali itulah sebagian besar alasan utama datang ke sebuah kawasan bernama ‘sekolah’.

Tapi tak semua siswa demikian. Ada yang menjadikan sekolah sebagai lahan pertempuran bagi masa depan mereka. Saya yakin bahwa sedikit sekali dari mereka yang berniat begitu. Tapi, apakah mereka tahu benar akan apa yang mereka lakukan?

Sistem pendidikan kita ini menurut saya sangatlah sekedar formalitas dan tak realistis. Bayangkan, sedari SD kita diajari budi pekerti, perbuatan tercela dan terpuji, namun siswa tak pernah dihadapkan dan diberi contoh pengaplikasiannya dalam kehidupan. Saya sendiri dahulu pernah berkecimpung dengan bidang sains ketika SMA, dan kini, apa yang membekas? Tak ada sama sekali. Memang saya memilih bidang yang berbeda dengan apa yang saya banyak pelajari di SMA. Namun sebuah ilmu yang baik pastilah memberikan sebuah pengajaran yang kekal dan adaptif jika diterapkan pada bidang lai. Saya percaya setiap ilmu mempunyai inti dan filosofi yang memberikan kita pelajaran kehidupan. Namun sayang, pendidikan dasar kita tak pernah membarikan hal itu. Lalu, buat apa segala teori logaritma, Newton, sejarah Kemerdekaan RI itu? Semua tak lebih hanya bahan ujian sekolah. Bukan bahan ujian kehidupan.

Ilmu teoretis seperti itu bisa didapatkan di mana saja dan kapan saja, terutama dengan berkembangnya teknologi informasi saat ini. Jadi, menurut saya, yang perlu diajarkan di pendidikan dasar kita sebenarnya bukanlah bermacam-macam rumus dan hal njelimet lainnya. Mereka membutuhkan pendidikan moral dan karakter, bahkan filosofi kehidupan (tentu yang sederhana). Saya sangat setuju jika seni dan sastra memegang peran penting dalam hal ini.

Dalam hal ini, mungkin anda pernah mendengar bahwa ‘masalah akan membuat kita belajar’. Saya sangat setuju dengan pernyataan itu. Pendidikan nampaknya harus berpijak pada ‘masalah’ dan ‘pengalaman’ sehingga ilmu dapat menjadi bekal yang baik bagi masa depan anak bangsa. Oleh karena itu, ijinkan saya mereka-reka sebuah istilah: Problem-Experience Education. Ha3.

Untuk mewujudkan pendidikan yang demikian, saya rasa para pengajar kini tak perlu terlalu takut akan target nilai atau kelulusan. Nilai atau kelulusan itu hanya akan bermuara pada data statistik! Bukankah akan lebih menyenangkan jika kita membuat sebuah mata air yang takkan berhenti mengalir di benak mereka? Ah, pemerintah kita memang tergila-gila dengan data statistik biar dinilai baik oleh orang atau bangsa lain. Mungkin mereka juga kurang tahu untuk apa hidup mereka itu.

With much love and happyness,
February 11th, 2011

Dikutip dari ‘Teacher Man, a Memoir’ tulisan Frank McCourt

Seseorang pernah memberitahu saya “Hei, Mac, hidup Anda, Mac, selama 30 tahun, Mac, hanyalah tentang sekolah, sekolah, sekolah, anak-anak, anak-anak, anak-anak, kertas, kertas, kertas, membaca dan mengoreksi, membaca dan mengoreksi, gunungan kertas yang menumpuk di sekolah, di rumah, siang-malam membaca karangan… karya dari ribuan- ribuan remaja New York selama bertahun-tahun, beberapa ratus lelaki dan perempuan pekerja, serta Anda tidak punya waktu untuk membaca Graham Greene… atau lelaki terpenting bagi Anda, Jonathan Swift. Anda akan menjadi buta karena membaca Joey dan Sandra, Tony dan Michelle, sedikit penderitaan, nafsu, dan kesenangan. Tumpukan barang-barang anak-anak, Mac. Bila orang-orang membuka kepala Anda, mereka akan menemukan ribuan anak remaja memanjati otak Anda. Setiap Juni mereka lulus, tumbuh, bekerja dan berlalu. Mereka akan memiliki anak, Mac, yang akan datang ke Anda suatu hari nanti untuk belajar bahasa Inggris, dan Anda akan menghadapi periode lain dari Joey dan Sandra, Tony dan Michelle, dan Anda akan ingin tahu: Apakah ini semua tentang hal ini? Akankah ini menjadi dunia Anda untuk 20 atau 30 tahun? Ingat, bila ini adalah dunia Anda, Anda adalah salah satu dari mereka, remaja. Anda hidup di dua dunia. Anda bersama mereka, setiap hari, dan Anda tidak akan pernah tahu, Mac, apa yang mereka lakukan pada pikiran Anda. Remaja selamanya. Bulan Juni akan tiba, dan tibalah saat untuk mengucapkan ‘Selamat tinggal, Pak, senang mengenal Anda, saudari saya akan menjadi murid Anda pada bulan September.’ Tetapi ada hal lain, Mac. Di kelas manapun, sesuatu selalu terjadi. Mereka membuat Anda terus berdiri. Mereka membuat Anda tetap segar. Anda tidak akan pernah menjadi tua, tetapi bahayanya adalah bahwa Anda memiliki pikiran seorang remaja selamanya. Itu benar-benar merupakan masalah, Mac. Anda menjadi terbiasa untuk berbicara kepada anak-anak itu sesuai dengan tingkatan mereka. Lalu, ketika Anda pergi… Anda lupa cara untuk berbicara dengan teman Anda dan mereka menatap Anda. Mereka menatap Anda, seolah-olah Anda baru tiba dari planet lain, dan mereka benar. Hari demi hari di ruang kelas berarti Anda berada di dunia lain, Mac.”

Hakikat Seorang Guru?

Saya teringat pada suatu malam saya dan seorang kawan tengah bersantai di sebuah teras rumah dengan ditemani dua cangkir kopi dan juga hawa malam yang menusuk. Ketika itu kami berbincang tentang banyak hal, dan ia sempat berkata kira-kira seperti ini: ’Kalau benar guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, buat apa mereka perlu demo di sana-sini untuk minta kenaikan gaji. Mereka itu tak paham dan sadar akan hakikat seorang guru. Profesi mereka sendiri.’ Dan saya hanya termenung beberapa saat.

 Hakikat. Saya sendiri selalu bertanya-tanya apakah hakikat itu benar-benar ada. Ataukah, hakikat hanyalah sebuah opini biasa yang dikuatkan oleh banyak orang dan bukti sehingga ia menjadi tampak nyata? Bagaimanapun itu, saya takkan kompromi soal hakikat dalam hal agama. Tetapi, untuk hal lainnya, apakah hakikat benar-benar ada? Memang ada beberapa hal yang pasti dalam hidup ini. Namun pada banyak hal, kepastian akan sebuah hakikat hanyalah buah dari pemikiran otak kita yang kecil ini. Dan barangkali kita tak tahu hakikat yang sebenarnya. Kita hanya memiliki hakikat dalam taraf manusia. Dan kita takkan pernah tahu hakikat dalam taraf Tuhan. Ah, lupakan.

Membicarakan tentang eksistensi guru saat ini tampak tak ada habisnya, terlebih ketika anda mulai menemukan banyak fakta di lapangan yang kau sadari tak sesuai dengan idealisme dan logika dalam diri. Kita persempit pembahasan kita ke dalam seting kelas. Saya yakin pasti anda pernah menjadi seorang murid yang duduk manis di dalam kelas. Namun apakah anda juga pernah menjadi pihak kedua, yaitu guru yang berhadapan langsung dengannya? Bisa saya katakan bahwa orang yang pernah merasakan berada di kelas sebagai murid dan guru adalah orang yang beruntung. Bagaimana tidak, anda dapat melihat sendiri bagaimana diri anda di masa lalu, yang diwakili oleh murid-murid. Anda pun dapat mulai menyadari bagaimana tipikal pemikiran seorang guru, yang selama ini anda hadapi di dalam kelas.

Nampaknya tidaklah naif jika pula saya katakan bahwa pengalamanlah yang membuka cakrawala pemikiran kita. Dengan merasakan berada di berbagai posisi dan keadaan, kita akan lebih mudah menentukan kebenaran, atau memilih keputusan. Sebagaimana kutipan Harper Lee yang takkan pernah saya lupa: ’Kau takkan bisa mengerti seseorang, hingga kau menelusup ke dalam kulitnya, dan berjalan dengan tubuhnya.’ Kita seringkali harus terlibat untuk memahami.

Begitu pula kini yang saya pertanyakan tentang hubungan antara murid dan guru: siapa sebenarnya yang harus ditakuti? Sebelumnya, andapun tentu tahu bahwa guru haruslah dihormati, akan tetapi hal ini terbatas pada moralitas sang guru sendiri, apakah ia pantas akan sebuah penghormatan. Tetapi, dalam pendidikan kita yang ’memanusiakan’ ini, adakah pihak yang perlu ditakuti?

Saya sering bertanya-tanya, mengapa kita perlu takut pada seorang guru? Mereka hanyalah seseorang yang mengajar kita, dan mengevaluasi pembelajaran kita. Mereka memang memegang kunci akan nilai. Lalu apakah karena itu pula kita harus takut pada mereka? Nampak seperti kita membenarkan kesemenaan mereka. Sedangkan di sini, kita sebagai murid telah mengorbankan biaya, waktu, dan pikiran kita hanya untuk berada di bawah ketiak mereka?

Pendidikan kita ini terlalu memberikan kemudahan dan kekuasaan pada sebagian guru yang amoral. Seharusnya murid-murid tersebutlah yang berhak mengevaluasi kinerja sang guru. Namun, apa daya, petinggi akan lebih memihak guru, yang notabene lebih berkuasa dan ’dekat’ dalam birokrasi. Begitulah Indonesia. Kalau begitu, guru sebenarnya adalah seorang pengajar atau pengancam? Mungkin kelak jika saya menjadi seorang ayahanda, pilihan homeschooling akan tampak lebih menggiurkan.

With much love and happyness,
 
24 Jan 2011

Mengetahui atau Menyadari?

Inti pendidikan adalah mendapatkan ilmu. Benarkah begitu? Lalu, apa ilmu itu? Definisi teoretis untuknya mungkin tetap, tetapi definisi praktis selalu berubah, kawan. Apakah ilmu itu saat ini? Apakah hanya rumus-rumus atau angka tahun perjuangan yang bersemayam di otak?

Pendidikan saat ini dengan sangat jelas bergeser dari jati dirinya. Ia saat ini tak lagi cukup mengedepankan pemahaman dan pengalaman, namun lebih menjunjung tinggi hasil. Yang penitng ilmu itu ada di otak, tak peduli bagaimana atau mengapa para peserta didik harus menerima ilmu instan tersebut. Mereka seakan hanya diharuskan menerima, bukan mempertanyakan, mencernanya.

Terkait dengan ilmu tersebut, pendapat pribadi saya mengatakan bahwa setidaknya saat iini banyak peserta didik kita masih berada dalam tahap mengetahui. Ini cukup berbahaya, karena di tengah-tengah laju informasi kini, segala hal dapat dimanipulasi. Karena itu, mereka harus sadar akan sebuah pengetahuan yang mereka terima. Sadar bagaimana hal itu terjadi, mengapa, dan untuk apa. Untuk itu, mereka pun harus dibekali rasa ingin tahu dan penasaran, yang lebih lanjut memicu kerja otak mereka untuk membuka realitas-realitas kehidupan. Tak penting lagi, kadang, hasil apa pemikiran kita. Dunia sangatlah relatif.

Yang terpenting, kita berpikir.


With much love and happYness,


Selasa, 23 Agustus 2011

Action Research: Bab I, Delimitation of the Problems


Sekarang kita beranjak pada bagian ketika dari Bab pertama, yaitu pembatasan masalah, atau delimitation of the problems. Di bagian ini, anda menyatakan bahwa dari berbagai permasalahan yang ditemukan di lapangan, pada bagian identifikasi masalah, anda memilih beberapa masalah saja (atau seluruh juga tak apa, asal yakin dapat mengatasinya) dengan mempertimbangkan berbagai aspek, seperti kekurangan peneliti sendiri, lokasi, fasilitas, dan lainnya. Yang perlu diperhatikan di sini adalah kecermatan anda dalam memilih masalah untuk diselesaikan.

Dalam action research, peningkatan harus terjadi. Oleh karena itu, anda harus memiliki kajian pustaka dan pemahaman yang baik akan metode atau media yang anda tawarkan sebagai solusi. Anda harus mengetahui bagaimana metode tersebut dapat menyelesaikan masalah yang anda pilih. Itulah kesulitannya.

Artinya, anda sudah harus memiliki daftar pustaka yang digunakan untuk mendukung anda. Dari sinipun, sebenarnya proses pencarian referensi untuk penelitian anda sudah harus dimulai, bahkan cenderung matang.

Kemudian, setelah anda menyebutkan dan menjabarkan alasan mengapa anda memilih permasalahan tadi, anda harus menyebutkan media atau metode yang anda tawarkan. Lalu, pada paragraf selanjutnya, anda dituntut untuk sedikit memberikan penjelasan bagaimana metode tersebut dapat berguna dalam menyelesaikan masalah yang anda pilih satu persatu.

Pembatasan masalah ini pun dapat diakhiri begitu saja, tanpa membutuhkan sebuah penutup seperti kesimpulan.

With much love and happyness,
March 28th, 2011, 09.04 am

Action Research: Bab I, Identification of the Problems


Sebagai sebuah kelanjutan dari latar belakang, untuk PTK, pada bagian identification of the problems atau pengidentifikasian masalah, penulis atau peneliti menguraikan permasalahan yang ia temui di lapangan. Lebih mudahnya, tipsnya dapat diuraikan sebagai berikut.

  1. Awalnya, peneliti mengemukakan bahwa ia menemukan beberapa permasalahan dari proses observasi yang ia lakukan di tempat penelitian.
  2. Permasalahan itu dapat dibagi menjadi kategori sehingga dalam proses penulisan, peneliti akan lebih mudah dalam menguraikannya.
  3. Di dalam penguraian masalah, peneliti harus mengemukakan keadaan yang seharusnya terjadi dan kenyataan yang ada di lapangan, karena dari perbedaan kedua hal tersebutlah muncul permasalahan.
  4. Proses observasi itu kemudian dapat dicantumkan dalam bentuk vignette.
  5. Apabila proses observasi itu juga dilengkapi dengan interview, maka transkrip dari interview tersebut dapat dicantumkan namun tidak banyak, hanya pada bagian yang mendukung pernyataan anda saja.
  6. Terakhir, anda mengemukakan bahwa penting untuk mencari solusi atas permasalahan tadi. Namun, metode atau media yang anda tawarkan tidak perlu disebutkan di sini, karena anda akan menjabarkannya pada bagian selanjutnya, atau pembatasan masalah (delimitation of the problems)
  7. Untuk thesis bahasa Inggris, perlu diingat bahwa dalam penjabaran masalah ini, past tense lah yang digunakan, karena hal itu berdasar dari hasil observasi yang terjadi saat lampau.

Semoga sedikit bermanfaat.
With much love and happyness,
March 28th, 2011, 08.54 am at FIP

Action Research, BAB 1, Latar Belakang


Action research atas Penelitian Tindakan Kelas dimulai dari sebuah permasalahan. Permasalahan tersebut secara umum Nampak pada bagian Background to the Study, atau latar belakang.

Sekarang, saya akan memberikan anda contoh judul PTK:
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK MEMBACA PEMAHAMAN PADA SISWA KELAS X.

Dan pada bagian latar belakang, kira-kira outline atau kerangkan berpikir yang anda perlu bangun adalah seperti ini:
- basa-basi (tetapi jangan terlalu membual): satu paragraf
- pentingnya kemampuan membaca, ditinjau dari berbagai aspek, seperti akademis, sosial, dan kehidupan sehari-hari (usahakan maksimal 4/5 paragraf)
- keadaan realita yang berlawanan dengan pentingnya kemampuan tersebut, contoh: walaupun penting, pada kenyataannya siswa kelas X tidak memiliki kemampuan membaca yang baik. Hal ini dikarenakan sebuah masalah muncul dari sebuah kesenjangan antara keadaan ideal dan kenyataan. 
- Bukti bahwa kemampuan membaca mereka itu buruk, bisa ditinjau dari aspek-aspek seperti: tata bahasa, pilihan kosakata, motivasi, dan lainnya.
- Kesimpulan, bahwa diperlukan solusi untuk masalah tersebut. Ahli memiliki berbagai versi tentang ini. Ada yang menyebutkan bahwa ’Membaca Pemahaman’ sudah disebutkan di bagian ini, namun ada juga yang tidak.

Latar belakang mungkin hanya terdiri dari beberapa lembar, namun banyak yang mengalami kesulitan di bagian ini. Ini dikarenakan bagian inilah yang mendasari keseluruhan penelitian anda. Anda tidak akan mempunyai penelitian yang berkualitas tanpa sebuah alasan. Di bagian latar belakang lah alasan tersebut harus anda paparkan untuk meyakinkan para pembaca bahwa apa yang anda lakukan itu memanglah dibutuhkan.

With much love and happyness,
March 27th, 2011. 7.13, through Flexynet

Senin, 15 Agustus 2011

LINTAS BIDANG (2)

Menjadi seorang mahasiswa yang berprestasi tidaklah selalu membuat seseorang tahu apa yang akan ia lakukan kemudian hari, siapa dia akan menjadi, pekerjaan apa yang akan ia geluti.

Keberhasilan yang ia lakukan dan capai semasa kuliah, seperti IPK yang tinggi, piagam-piagam penghargaan yang ia dapatkan, kadang sama sekali tidak menentukan masa depan seseorang. Saya mengenal beberapa orang yang demikian.

Sedari awal misalnya, ada orang-orang yang memang tidak kuliah pada tempatnya. Mereka terus saja menjalaninya, karena kisah telah dimulai. Tak boleh ada jalan kembali. Waktu terus berlalu, dan mereka merasa makin tersiksa dengan berbagai beban studi yang harus mereka jalani, yang mungkin sekali tidak sesuai dengan ekspektasi mereka dahulu. Beberapa orang akan mengambil jalan pintas, yaitu dengan menggeluti pilihan2 beragam yang ditawarkan universitas untuk menyalurkan bakat dan minat mereka. Tapi, di sisi lain, mereka telah menelantarkan studi mereka. Entahlah apa yang menjadi pertimbangan mereka. Itu adalah pilihan.

Ketika mereka lulus pun, ada yang mengambil jalan lain, yang berbeda dengan pilihan mereka sebelumnya. Seseorang yang ternyata tidak merasa pantas dan mampu menjadi seorang guru, kemudian merintis jalan untuk membuka bisnis, menjadi pegawai kantoran, dan kemungkinan lainnya.

Manusia senantiasa berubah, dan bahkan diri mereka sendiri mungkin tak akan mengetahui arah perubahan diri itu. Satu hal yang pasti penting, adalah bahwa setidaknya mereka masih terus belajar akan sesuatu, walau kadang di sisi lain harus ada yang dikorbankan.

Saya pribadi pun telah mengalami 2 perubahan besar dalam masa studi saya. Kini, saya tak lagi berminat menjadi seorang guru. Namun, tetaplah dibutuhkan orang yang sepenuh hati setia pada profesi ini. Bayangkan, siapa yang akan menjadi guru, bila semua orang berpendapat sama seperti saya?

Saya hanya berharap bahwa mereka yang setia pada profesi itu tahu kekurangan dan kelebihan dari profesi itu, dan sebenarnya masih ada pekerjaan yang mungkin lebih baik dari itu. Seberapapun kita mencintai sesuatu, kita masih harus tetap mempertimbangkan hal lain yang mungkin lebih baik.

Jangan menjadi seorang ekstrimis.

With much love and happYness,
August 16th, 2011, 12.19 pm

Minggu, 14 Agustus 2011

LINTAS BIDANG (1)

Universitas atau Perguruan Tinggi pendidikan keguruan tampak mulai mendapat tempat saat ini, yang ditunjukkan dengan banyaknya calon mahasiswa yang mendaftar di universitas-universitas dengan latar belakang demikian. Dapat kita bayangkan pula beberapa tahun ke depan, jumlah tenaga kerja kependidikan akan makin membludak, walau di beberapadaerah mungkin masih saja mengalami kekurangan pendidik/guru. Di kota-kota besar khususnya, di mana persaingan begitu alot, banyak orang atau lulusan pendidikan yang terpaksa oleh keadaan dan diharuskan menerima sebuah pekerjaan mengajar yang sering berbeda dengan bidang yang ia geluti di universitas. Dan banyak orang itu pun mengambil tingkat SD sebagai pijakan karirnya, dengan sebuah alasan yang cukup ironis: mengajar materi SD itu mudah.

Menurut saya, SD adalah pijakan bagi para siswa, bukan bagi sang guru. Jika pemerintah mau konsisten, seharusnya tidak bisa dibenarkan bahwa seorang mantan mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis dapat mengajar Bahasa Indonesia di SD. 'Pijakan' tadi akan benar-benar menginjak-injak para siswa. Sebagai contoh, saya mengetahui keadaan sebuah SMP di mana para siswanya bahkan masih kesulitan mengeja huruf dan angka dalam bahasa Inggris. Padahal, materi itu sudah seharusnya diajarkan ketika SD. Saya ;pun kemudian mengetahui bahwa dahulu banyak dari mereka yang diajar oleh guru yang bukan berlatar belakang bahasa Inggris. Lihatlah apa yang terjadi. Ini akan menambah beban guru bahasa Inggris SMP mereka.

Lagipula, persepsi mengajar materi ke anak SD itu pun sebenarnya salah. Itu adalah persepsi guru terhadap materinya. Bukan pada karakter siswanya. Justru, mengajar anak SD dibutuhkan tenaga dan kesabaran yang lebih. Dan lagi, materi itu 'mudah' bagi sang guru, tapi bagi siswa, hal itu sama saja.

Masalah ini bagaikan satu titik dalam jaringan problematika pendidikan yang rumit saat ini. Tapi mungkin dengan konsistensi dan ketegasan, hal ini dapat membaik. Asalkan tolong, jangan korbankan para peserta didik!

With much love and happYness,

August 14th, 2011, 11.04am

Kamis, 04 Agustus 2011

MENYETIAI MEREKA


Kemarin saya baru saja berkunjung ke rumah salah satu kawan saya yang baru saja lulus kuliah dan sekarang telah menjabat sebagai guru di sebuah SMP Muhammadiyah di Yogyakarta. Banyak hal yang saya dapat dari kunjungan itu. Terlebih, hal ini terkait dengan pengalamannya yang pertama resmi menjadi seorang guru.

Ada banyak hal sebenarnya yang tidak terpikirkan oleh para mahasiswa calon guru saat ini, walau mereka telah dibekali dengan berbagai pengetahuan yang mencukupi tentang pengajaran. Kenyataan di lapangan, walau demikian, selalu memberikan kejutan bagi mereka yang baru pertama kali menjamahnya. Kawan saya itu bercerita bahwa keadaan di sekolahnya tidaklah seperti yang ia bayangkan. Terutama untuk sekolah yang kurang diminati, mengajar siswa bukanlah sesuatu yang mudah. Ia harus menemukan cara agar motivasi siswa untuk belajar pun dapat mencukupi. Bagaimana mau belajar, jika ada siswa yang bahkan tidak membawa buku dan pena ke sekolah. Bagaimana mau belajar materi, jika minat siswa dan pengetahuan pentingnya pelajaran itu tak ada pada siswa?

Ia juga bercerita berbagai pengalaman nasib guru yang berada di sekolah tersebut. Sang kepala sekolah, seorang guru BK perempuan yang sangat sabar, yang bisa dikatakan sebagai seorang pionir sekolah itu, yang masih setia bertahan di sekolah itu, untuk menyetiai anak-anak badung yang katanya suka berkelahi itu. Saya bisa mengatakan bahwa kawan saya tadi adalah orang yang beruntung. Walau ia mengajar di sana bukan untuk mencari uang, melainkan pengalaman saja, ia telah ditunjukkan realitas pendidikan di negeri ini, yang kurang perhatian. Di saat banyak guru yang enggan mengajar siswa-siswa kurang kemampuan seperti itu, dan mencari sekolah besar sebagai lahan karir mereka, para guru di SMP itu hadir bukan sebagai pencari nafkah (setidaknya tidak 100 persen demikian). Sebagian dari mereka adalah para pendidik sesungguhnya, yang naasnya, justru harus mengalami penderitaan karena ketidakadilan.

Kawan saya itu pun masih bersyukur dengan keadaan di sekolahnya, karena ia pernah mengajar di tempat lain, yang keadaan fisik dan pengajarannya pun lebih buruk. Saya hanya berpikir, seperti inikah parahnya pendidikan kita? Sehingga ada jurang yang sangat besar antara pendidikan di kota-kota dan di daerah terpencil? Bahkan, sekolah kawan saya itu pun tak terlalu jauh dari kota, hanya saja, begitu kontras kondisi yang tampak. Hal ini terjadi di Yogyakarta. Bagaimana dengan kota lain yang lebih kecil?

Pemikiran saya takkan bisa memikirkan cara penyelesaian untuk segala persoalan itu. Hal ini terlalu rumit dan melibatkan banyak peraturan dan kepentingan orang-orang yang lebih berkuasa. Doa saya, semoga mereka, guru-guru luarbiasa itu, diberikan keadilan dan kebahagiaan, selekasnya.

With much love and happYness,
August, 4th, 2011, Library.