CHOICES

Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 September 2011

Rahasia Si Pendiam

Seorang pendiam selalu berpikir tentang apa yang akan ia lakukan di keramaian, namun seseorang yang banyak bicara tak pernah memikirkan apa yang akan ia lakukan dalam kesendirian. Mereka terlalu sibuk untuk itu.
 Saya selalu mengagumi seseorang dengan kemampuan komunikasi yang baik, penuh wibawa dan bersahaja. Ada banyak orang yang selalu menjadi tujuan rasa kekaguman saya atas hal ini. Dari sedemikian banyak orang ebat di negeri ini, beberapa nama dapat saya sebutkan sebagai contoh. Dari bidang jurnalistik, orang-orang seperti Desy Anwar, Putra Nababan mungkin yang terbaik. Dari kategori presenter, nama-nama seperti Indy Barends, Sarah Sechan punya saya sukai karena kemampuan mereka dalam menyesuaikan karakter diri dengan formalitas sebuah acara.

Tapi bukan berarti saya juga tidak memberikan kekaguman yang serupa pada orang-orang pendiam. Saya sendiri pada dasarnya adalah orang pendiam. Walaupun sempat merasa menyesal atas karakter tersebut, saya yang kini telah tumbuh lebih besar dan mengerti dunia lebih luas, menyadari bahwa saya tidak sendiri. masih banyak orang pendiam di luar sana.

Banyak orang menganggap orang pendiam adalah orang yang penuh misteri, tertutup, dan cenderung ‘berbahaya’. Saya sangat tidak setuju dengan hal ini. Terlepas dari apakah seseorang itu pendiam, masalah moral tidak pernah terkait dengan sifat tersebut. Saya lebih suka mengatakannya demikian. Karena pun banyak orang-orang yang memanfaatkan kemampuan komuninkasi mereka untuk keperluan yang tidak bermoral.

Tapi di sini saya hanya ingin sedikit berbagi pengalaman saya menjadi orang dengan sifat pendiam. Begitu pula bagaimana saya melihat pendiam lainnya yang berada di dekat saya.
Tidak ada orang yang ingin menjadi pendiam. Itu hal pertama. Saya sangat yakin bahwa pada awalnya, orang pendiam sangat merasa tersiksa atas kondisi mereka sendiri. Namun ada semacam kungkungan yang menahan mereka untuk berubah. Terkadang masalah pribadi pun menjadi sebuah alasan.

Orang pendiam selalu memperhatikan dan memahami lebih baik. Karena mereka sedikit menghabiskan tenaga untuk berbicara, maka ada banyak porsi dari diri mereka untuk berpikir lebih baik. Saya sendiri merasa bahwa berbicara lebih melelahkan daripada berpikir keras. Ya, orang berbeda-beda.

Mungkin ini agak terdengar kurang baik, tap orang pendiam kadang sering mengalami kesulitan dalam mengambil sebuah keputusan. Ini disebabkan juga sebagian dari mereka sering terkesan ‘nrimo’ dan terlalu patuh pada mereka yang jauh lebih percaya diri mengemukakan pendapat.

Terakhir, adalah yang paling saya sukai. Pendiam selalu bertindak dengan lebih hati-hati. Dan saya pun beruntung mengetahui bahwa kebanyakan dari mereka adalah orang yang SANGAT TULUS.
Mau menjadi pendiam?


With much love and happyness,
March 27th, 2011

Minggu, 04 September 2011

Nge-trend atau Nge-blend?

Ungkapan yang pasaran: hidup adalah pilihan. Banyak orang telah menanamkan pemikiran itu dalam otak mereka. Namun, ia hanya tertanam di sana, tanpa ada tindak lanjut, tanpa dimengerti. Dan manusia kembali hidup seperti biasanya, tanpa perlu atau ingin memahaminya. Saya beruntung, dapat menyadari ketidaksadaran mereka itu.

Sebagaimana dapat anda lihat pada judul posting ini, apa yang anda pikirkan kemudian? Di manakah anda berada, sisi kiri atau kanan?

Banyak orang kini menentukan pilihan hidup mereka atas apa yang terjadi di luar diri mereka. Mereka menganggap diri mereka sama dan 'normal' sebagaimana orang lain pada umumnya. Orang-orang macam itulah yang tak menghargai diri sendiri, tak menghargai keunikan diri, dan memilih menjadi orang-orang yang biasa saja. Itulah orang yang nge-trend.

Di lain pihak, masih ada orang yang dengan penuh hati menjadi dirinya sendiri. Merekalah orang yang nge-blend. Meski terkadang dinilai aneh atau tak lazim, mereka sebenarnya mengenal diri mereka sendiri. Dengan begitu, mereka pun dengan cukup pasti akan dapat memahami orang lain dengan baik.

Saya mempunyai sebuah dialog yang cukup mengena tentang hal ini:

A: Aku memilih untuk memahami diri sendiri daripada memahami orang lain.
B: Kalau begitu, kau egois!
A: Oh, begitu? Jadi, kau merasa tak seegois aku?
B: Tentu iya. Aku suka memahami orang lain.
A: Setahuku, orang yang suka memahami orang lain tak pernah mengatakan mereka 'egois', karena mereka PAHAM pada mereka.
B: ... (terdiam)

Sekali lagi, itu adalah pilihan. Dengan menjadi orang yang nge-trend, kau dapat lebih diterima dalam masyarakat, karena masyarakat didominasi oleh orang yang biasa-biasa saja. Tapi kadang, kau hidup sebagai orang lain, dalam keterpaksaan yang takkan membahagiakanmu. Atau kau bisa menjadi orang yang nge-blend, dan menjalani hidupmu sendiri.

Bila biasanya kau membeli minyak rambut Getsbi karena orang lain memakainya, mulailah untuk membeli Tancho yang lama tak kau beli. Bila di TV saat ini beredar keras lagu boy dan girlband, matikan TV-mu! Putar lagumu sendiri.

Menjadi diri sendiri akan membuatmu maklum dan menghormati perbedaan. Itulah yang dunia butuhkan saat ini, kebahagiaan diri dan perdamaian.

With much love and happYness,

2/9/11/9.24

Selasa, 23 Agustus 2011

Rezeki

Seringkali, ketika menunggu angkutan umum, saya menunggu di pinggir jalan, di mana juga terdapat seorang bapak tua yang berjualan bensin. Tak jauh darinya, sekitar 5 meter, ada juga seorang penjual bensin yang setiap pagi selalu kebanjiran pembeli.

Suatu saat saya berbincang dengan bapak itu. Ia adalah seorang pensiunan, dan menjual bensin ini ia maksudkan untuk mengisi waktunya yang sangat luang, selain mengantar jemput beberapa cucunya yang masih SD, dan merokok. Saya pun bertanya apakah ia tak takut tidak kebagian pembeli bensin. Karena seringkali saya pun melihat bensinnya tak banyak yang laku.

Ia pun bercerita bahwa itu adalah masalah rejeki masing-masing. ‘Ya sekalian latihan ketabahan.’ Setelah itu ia pun bercerita bahwa keuntungan yang ia dapatkan tidaklah seberapa, tapi banyak waktu yang ia habiskan. Terkadang, dalam sehari, ia hanya mampu menjual 3 atau 4 botol kecil bensin satu literan saja. sementara para penjual lain yang berada di dekatnya mampu menjual hingga 20 an botol.
Istrinya pun berkata bahwa mungkin orang-orang takut dengan bapak itu, yang jarang senyum. Saya dahulu awalnya pun merasa demikian. Namun, nyatanya, ia adalah orang yang sangat tabah, dan baik.

Kemudian ia pun berbicara tentang masalah kebakaran di kilang Cilacap. Pensiunan perusahaan minyak ini pun mengatakan banyak hal yang ia ketahui tentang distribusi minyak. Di balik perangainya yang cenderung cuek itu, saya pun dapat melihat bagaimana luar biasanya ia ketika dahulu masih lebih muda.

Sikap demikian pasrah atas rezeki ini bisa dikatakan baik, namun juga buruk. Setidaknya, untuk itu, kita memerlukan strategi dalam berdagang yang baik, tidak hanya berbekal prinsip ‘nrimo’ ala Jawa seperti ini.

Minggu, 21 Agustus 2011

Rahasia Si Pendiam

Seorang pendiam selalu berpikir tentang apa yang akan ia lakukan di keramaian, namun seseorang yang banyak bicara tak pernah memikirkan apa yang akan ia lakukan dalam kesendirian. Mereka terlalu sibuk untuk itu.

Saya selalu mengagumi seseorang dengan kemampuan komunikasi yang baik, penuh wibawa dan bersahaja. Ada banyak orang yang selalu menjadi tujuan rasa kekaguman saya atas hal ini. Dari sedemikian banyak orang ebat di negeri ini, beberapa nama dapat saya sebutkan sebagai contoh. Dari bidang jurnalistik, orang-orang seperti Desy Anwar, Putra Nababan mungkin yang terbaik. Dari kategori presenter, nama-nama seperti Indy Barends, Sarah Sechan punya saya sukai karena kemampuan mereka dalam menyesuaikan karakter diri dengan formalitas sebuah acara.

Tapi bukan berarti saya juga tidak memberikan kekaguman yang serupa pada orang-orang pendiam. Saya sendiri pada dasarnya adalah orang pendiam. Walaupun sempat merasa menyesal atas karakter tersebut, saya yang kini telah tumbuh lebih besar dan mengerti dunia lebih luas, menyadari bahwa saya tidak sendiri. masih banyak orang pendiam di luar sana.

Banyak orang menganggap orang pendiam adalah orang yang penuh misteri, tertutup, dan cenderung 'berbahaya'. Saya sangat tidak setuju dengan hal ini. Terlepas dari apakah seseorang itu pendiam, masalah moral tidak pernah terkait dengan sifat tersebut. Saya lebih suka mengatakannya demikian. Karena pun banyak orang-orang yang memanfaatkan kemampuan komuninkasi mereka untuk keperluan yang tidak bermoral.

Tapi di sini saya hanya ingin sedikit berbagi pengalaman saya menjadi orang dengan sifat pendiam. Begitu pula bagaimana saya melihat pendiam lainnya yang berada di dekat saya.

Tidak ada orang yang ingin menjadi pendiam. Itu hal pertama. Saya sangat yakin bahwa pada awalnya, orang pendiam sangat merasa tersiksa atas kondisi mereka sendiri. Namun ada semacam kungkungan yang menahan mereka untuk berubah. Terkadang masalah pribadi pun menjadi sebuah alasan.

Orang pendiam selalu memperhatikan dan memahami lebih baik. Karena mereka sedikit menghabiskan tenaga untuk berbicara, maka ada banyak porsi dari diri mereka untuk berpikir lebih baik. Saya sendiri merasa bahwa berbicara lebih melelahkan daripada berpikir keras. Ya, orang berbeda-beda.

Mungkin ini agak terdengar kurang baik, tap orang pendiam kadang sering mengalami kesulitan dalam mengambil sebuah keputusan. Ini disebabkan juga sebagian dari mereka sering terkesan 'nrimo' dan terlalu patuh pada mereka yang jauh lebih percaya diri mengemukakan pendapat.

Terakhir, adalah yang paling saya sukai. Pendiam selalu bertindak dengan lebih hati-hati. Dan saya pun beruntung mengetahui bahwa kebanyakan dari mereka adalah orang yang SANGAT TULUS.
Mau menjadi pendiam?



With much love and happyness,
March 27th, 2011

Minggu, 14 Agustus 2011

DICIPTAKAN UNTUK...

Manusia hidup dengan berbagai hal di sekitarnya.Makhluk hidup lain, benda-benda mati, alam, ataupun hal-hal yang tak kasat mata dan abstrak. Tuhan mengatakan bahwa kita adalah ciptaan-Nya yang paling sempurna. Dan mungkin hal lain itu diciptakan untuk melengkapi kita. Ah, barangkali yang lebih bijak adalah: mereka dan kita ada untuk saling melengkapi.

Kau adalah manusia. Kita pun demikian. Lalu, apakah arti dari berbagai hal di sekitar kita? Apa yang hendak kau lakukan dengannya?

Manusia seringkali membagi-bagi 2 hal dalam hidup: baik-buruk, benar-salah, hitam-putih, baik-jahat. Lalu, barangkali, kitapun perlu mempertanyakan:

Adakah sesuatu hal yang benar-benar diciptakan untuk satu sisi?
Adakah sesuatu hal yang benar-benar diciptakan hanya untuk kebaikan?
Adakah sesuatu hal yang benar-benar diciptakan hanya untuk kejahatan?

Coba kita pikirkan. Banyak orang telah dengan mudah menstereotipekan dusta, dan mengkaitkannya dengan kejahatan, dosa, dan lainnya. Begitu pula cinta, yang identik dengan kebahagiaan, tawa, dan kebaikan. Akan tetapi, benarkah itu? Oh, hidup benar-benar relatif. Pertanyakanlah segala sesuatu. Sebuah alasan yang kadang mengejutkan di balik sesuatu. Oh, betapa otak dan pemikiran kita terlalu dangkal jika dibandingkan kekuasaan Tuhan.

Menurut pendapat pribadi saya, TAK ADA sesuatu yang diciptakan untuk kebaikan/kejahatan saja. Segala hal diciptakan untuk keduanya. Untuk digunakan dalam kedua hal tersebut: kebaikan dan kejahatan. Lalu, siapakah sebenarnya yang menentukan bahwa, misal, cinta adalah untuk kejahatan/kebaikan?

Siapa lagi? Tentu saja manusia itu sendiri.

Kebaikan dan kejahatan muncul dari itikad. Dan darimanakah itikad itu datang? Tentu hanya dari diri manusia. Itikad tak datang dari benda atau hal-hal yang ada di sekitar. Justru itikad itulah yang memanfaatkan berbagai hal, demi eksistensi keduanya: kebaikan dan kejahatan. Belati, dapat menghujam seseorang yang tak berdosa, atau seseorang yang hendak mencelakakan kita. Kebaikan/kejahatan muncul dari itikad sang pemegang belati itu.

With much love and happYness,
August 14th, 2011, 10.47am



Kamis, 23 Juni 2011

RESPECT


Bagaimana anda memandang orang lain? Semua itu, mau tak mau juga terkait pada bagaimana anda memandang diri anda sendiri. Orang yang congkak akan cenderung memandang rendah orang lain, terutama yang tidak dikenalnya. Sementara orang yang rendah diri seringkali melihat orang lain sebagai ‘sesuatu yang sulit diraih’. Mungkin itu pula sebabnya banya orang yang rendah diri pada akhirnya juga sulit mendapatkan kawan.

Tapi setiap orang tak selalu demikian. Kini perkenankan saya untuk memberitahu anda bagaimana saya memandang orang lain. Ada setidaknya dua criteria yang saya gunakan. Untuk orang yang tak saya kenal, saya selalu melihat mereka sebagai seseorang yang sama dengan saya. Saya tidak suka mempercayai seseorang dari apa yang saya lihat pada diri mereka, secara fisik. Atau kesan. Seringkali, saat pertama kali bertemu seseorang, kita termakan kesan mentah-mentah. Akan tetapi, ada pengecualian di mana seseorang mampu mengerti seseorang sedari awal mereka berkenalan. Dan mungkin orang yang sudah cukup 
berpengalaman dalam membina sebuah hubungan interpersonal lah yang mampu melakukannya dengan baik. 

Saya pun tidak suka mengungkit-ungkit perbedaan mendasar saya dan orang lain yang baru saya kenal itu, karena sederhananya: nasib manusia itu berbeda-beda. Jadi, yang perlu saya hitung adalah usaha seseorang dalam menggapai apa yang telah ia miliki saat ini. Saya tak peduli hasilnya. Tak peduli keadaannya: mau ia kaya, mau ia tukang parker, mau ia buruk rupa, ia sama dengan saya. 

Kedua, saya selalu lebih menghormati orang yang telah saya kenal dengan baik. Betul saja. Mana mungkin kita memiliki rasa hormat yang sedemikian dalam pada seseorang yang hanya kita jumpai sekali? Siapa tahu saat itu ia hanya bersikap demikian atas sebuah ‘tuntutan’. Tidak ada yang cukup tahu tentang hal itu. Butuh waktu yang cukup untuk kita mengerti seseorang, dan kemudian memberikan penghargaan padanya, dalam bentuk rasa hormat. Sebagai contoh, saya baru menyadari betapa besar pengaruh orang tua saya setelah saya cukup dewasa. Ya, seseorang yang mempunyai rasa hormat biasanya juga telah dipengaruhi banyak dalam hidupnya oleh orang yang diberi hormat itu.

With much love and happYness,
June 22nd, 2011

Selasa, 21 Juni 2011

LAGI, DARI THE ALCHEMIST

Berikut cuplikan dari novel The Alchemist karya Paulo Coelho, tentang keadaan seseorang yang hanya bercukup pada 'mempunyai mimpi', bukan mewujudkan mimpi.


 "Mekah malah lebih jauh dari Piramida. Saat aku muda, yang kuinginkan hanyalah mengumpulkan uang untuk membuka took ini. Aku berpikir suatu hari nanti aku akan kaya dan dapat pergi ke Mekah. Mulailah uang kudapat, tapi aku tak pernah bias lega meninggalkan toko pada orang lain; Kristal adalah barang yang rentan. Sementara itu, orang-orang berjalan melewati tokoku sepanjang waktu, menuju Mekah. Beberapa dari mereka adalah peziarah yang kaya, berkelana dengan kafilah bersama para pembantu dan onta, tapi kebanyakan orang yang melakukan ziarah itu lebih miskin dari aku.”

“Semua orang yang ke sana merasa bahagia karena dapat melakukannya. Mereka meletakkan lambang-lambang penziarahan itu di pintu-pintu rumah mereka. Salah satunya, seorang tukang sepatu yang seumur hidupnya memperbaiki sepat, bercerita bahwa dia sanggup berjalan selama hanpir satu tahun melalui gurun, tapi merasa capek saat harus berjalan melewati jalan-jalan Tangier untuk membeli kulit.”

“Kok, Bapak tidak pergi ke Mekah sekarang?” Tanya si bocah.

“Justru pikiran tentang Mekah-lah yang membuatku terus hidup. Itulah yang membuatku kuat menghadapi hari-hari yang sama belaka ini; yang membuatku tahan menghadapi Kristal-kristal bisu di rak, dan sanggup makan siang dan makan malam di warung jelek yang itu-itu juga. Aku takut bila impianku terwujud, aku tak punya alas an lagi untuk melanjutkan hidup.

“Kamu bermimpi tentang domba-domba dan Piramida, tapi kamu beda denganku, karena kamu ingin mewujudkan impianmu. Aku hanya memimpikan Mekah. Sudah ribuan kali kubayangkan diriku melewati gurun pasir, tiba di Kabah, mengitarinya tujuh kali sebelum aku menyentuhnya. Kubayangkan orang-orang yang akan berada di sampingku, dan yang di depanku, dan percakapan dan doa-doa yang kami panjatkan bersama. Tapi aku takut semua itu akhirnya akan membuatku kecewa, jadi aku lebih suka memimpikannya saja.”

Hari itu, si pedagang mengizinkan si bocah membuat lemari pajangan. Tidak semua orang dapat melihat impiannya menjadi kenyataan dengan cara yang sama.



Minggu, 27 Maret 2011

MESIN PERSALINAN

“Kami berdiri dari pagi sampai malam di depan mesin fotokopi yang panas. Sinarnya yang menyilaukan menusuk mata, membiaskan pengetahuan botani, fisiologi tumbuhan, genetika, statistika, dan matematika di muka kami.” Andrea Hirata, Sang Pemimpi.


Tukang fotokopi. Saya selalu mengagumi bagaimana cekatan dan terampilnya tangan-tangan mereka bergelut dengan lembaran-lembaran kertas. Dan sebagaimana seorang penawar jasa, kemampuan mereka untuk menebak hal-hal kecil yang kita butuhkan pun seringkali benar-benar membantu. Walaupun tak seluruhnya memberikan pelayanan yang sama, tetaplah kita beruntung memiliki orang-orang seperti mereka. Yang kadang menghabiskan beberapa tahun untuk mendalami profesi gampang-gampang susah ini.

Namun yang perlu diharapkan barangkali adalah betapa beruntungnya tukang-tukang fotokopi tersebut. Setiap lembar kertas yang mereka pindai dan salin adalah lembar-lembar ilmu yang akan mengubah nasib seorang manusia. Dan mereka telah memberikan keringat mereka untuk lestarinya ilmu tersebut. Begitu besar pahala yang mereka dapatkan dengan penuh keikhlasan.

Saya percaya bagaimanapun, apapun pekerjaan di dunia ini, akan ada saja orang yang rela menghabiskan waktunya untuk mengabdi pada profesi tersebut. Begitu pula yang berkaitan dengan mesin copy paste jaman Rhoma Irama ini. Tetapi saya pun telah melihat orang-orang yang terpaksa berada di dalam aktivitas yang memfasilitasi dunia akademis ini. Mereka melakukannya karena tak ada pilihan lain.

Saya dan Anda pastinya ingin hidup dengan sebuah kepekaan yang akan selalu memberitahu, mengingatkan kita. Dengan sebuah kepekaa, pemikiran kita akan memunculkan sebuah pernyataan rasa syukur, bukan sekedar alasan untuk mundur dan duduk terpekur. Ilmu dan pendidikan yang membuat peka. Keberanian dan keingintahuan yang menggerakkan kita. Akan tetapi masih banyak orang di luar sana yang menganggap remeh pendidikan. Seperti seorang musisi jebolan SMK yang menjauhkan anak-anaknya dari pendidikan demi musik. Semoga anak-anak itu tak menjadi seperti ayahnya (mengapa jadi seperti infotainment?!)

Kita takkan pernah tahu imbas sesuatu tanpa mencobanya. Saya sangat bersyukur mendapatkan pendidikan. Jika tidak, saya takkan menulis, saya takkan memahami diri dengan lebih baik. Saya takkan bisa melihat dunia dengan lebih jelas.

Dan semoga tukang-tukang persalinan kertas tadi menyadari pentingnya pendidikan dari dalam diri mereka dan sinaran mata para civitas akademika yang datang pada mereka tiap harinya. Semoga mereka pun tahu berapa bahagianya mereka untuk berada dekat dengan ilmu. Pengubah hhidup mereka. Jika mereka pun berkenan.



With much love and happyness,
March 20th, 2011

Minggu, 28 November 2010

KITA MENARIK PERHATIAN ORANG-ORANG YANG DAPAT MENGAJAR KITA

Pernahkah anda berpikir mengapa dari delapan belas juta orang di Australia akhirnya anda bertemu dengan seseorang yang kini menjadi jodoh anda dan mengapa kalian berdua lalu memutuskan untuk hidup bersama? Salah satu hal tersulit yang banyak dialami orang dalam hidupnya adalah sebuah hubungan yang sebelumnya mereka kira akan kekal selamanya, ternyata kini hancur dan tanpa arah. Hari-hari yang menyedihkan mulai mengalahkan jumlah hari yang menyenangkan, dan banyak pasangan mulai menanyakan apakah semua itu masih berarti.

Anda akan memiliki hubungan yang sehat baik suka maupun duka apabila anda menghilangkan celah yang memungkinkan anda keluar dari hubungan itu sendiri. Pernahkah anda menonton sebuah film dengan judul When a Man Loves a Woman yang dibintangi Meg Ryan dan Andy Garcia? Film itu bercerita tentang seorang wanita yang kecanduan alkohol dan suaminya yang sukses dalam bisnis begitu memberikan perhatian dan toleransi yang besar. Film tersebut menggarisbawahi bagaimana sang wanita mendapati dirinya bermasalah dan berusaha mendapatkan kesembuhan lewar klinik rehabilitasi obat bius dan alkohol. Tetapi apa yang kemudian dipelajari oleh suami dan istri tersebut adalah mereka masing-masing memiliki andil yang sama dalam permasalahan yang terjadi dalam keluarga mereka. Apabila si wanita tetap dalam keadaan mabuk, suaminya dapat menunjukkan betapa besar perannya sebagai seorang pasangan yang hebat dan penuh perhatian.

Tetapi apa yang akan terjadi bila sang istri tidak mengkonsumsi minuman keras untuk meningkatkan semangatnya? Apa yang akan terjadi pada hubungan mereka jijka sang istri mampu memperbaiki harga dirinya? Sang suami menyadari, seperti sebagian besar dari kita, bahwa anda menarik semua orang dalam kehidupan anda untuk mengajari anda akan sesuatu. Sang suami mulai menyadari bahwa ia menginginkan istrinya tetap dalam keadaan kecanduan minuman keras supaya ia dapat merasa memperhatikannya.

Film ini memberi sebuah pertanyaan yang sangat bagus: siapa yang membutuhkan pertlongan—sang pecandu atau pasangannya, atau keduanya? Film ini berakhir ketika sang istri mulai bertanggung jawab atas hidupnya sendiri dan untuk hubungan mereka berdua, tetapi dengan peran mereka sebagai suami istri dalam posisi yang sama, bukan sebagai ’tertuduh’ dan sebagai ’penyelamat’.

Dunia ini penuh dengan pepatah yang menasihati anda untuk tidak menghakimi orang lain. ’Orang yang merasa tidak pernah berdosa, silahkan melempar batu yang pertama.’ ’Berjalanlah satu mil dengan menggunakan sepatu Indian sebelum anda membuat penilaian.’ Apa yang akan terjadi bila anda berusaha untuk mengubah setiap orang dan mulai melontarkan pertanyaan seperti: ’Saya heran apa yang dapat saya pelajari dari orang ini atau peristiwa ini?’

Sumber: You Can Do It! Paul Hanna

Senin, 08 November 2010

THE BALANCE OF LIFE

“Ketika kita telah mencapai suatu keseimbangan dalam kehidupan pribadi, keluarga dan bisnis dengan menggunakan kemampuan maksimal yang telah membawakan keuntungan dalam segi fisik, kejiwaan dan rohani, kita adalah orang yang berhasil.”
–Zig Ziglar

Dapat memiliki keberhasilan spiritual, mental, dan material adalah lambing dari kesuksesan yang berimbang, tentunya semua orang ingin hidup bahagia melalui pencapaian kesuksesannya. Namun banyak yang tidak tahu caranya menjadi bahagia atau belum menemukan caranya. Lalu apa itu bahagia, sebenarnya? Kata bahagia itu relative bagi settiap orang dan tidak berwujud, jadi sulit mengartikannya.

Namun sebelumnya saya akan jelaskan arti kata tidak bahagia (unhappy) sebagai perbandingan dengan kata happiness seperti yang pernah diuatarkan oleh Mr. Joger, ”unhappy” atau ”rasa tidak bahagia” adalah sebuah perasaan yang biasanya muncul di saat kenyataan yang terjadi atau yang tidak terjadi, ternyata tidak sesuai dengan keinginan kita. Rasa tidak bahagia adalah rasa yang tidak enak atau tidak nyaman, yang muncul karena kita merasa telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kita lakukan. Rasa tidak bahagia adalah perasaan bersalah, karena kita telah mengambil sesuatu yang sebenarnya bukan hak kita. Rasa tidak bahagia adalah perasaan berdosa yang muncul karena kita telah melanggar perintah Tuhan, atau melanggar suara hati nurani kita yang terdalam.

Sebaliknya rasa bahagia adalah perasaan jika kita sudah mau dan bisa mensyukuri kenyataan, tidak peduli apakah kenyataan itu sesuai atau tidak dengan keinginan kita semula. Seseorang bisa mengalami kebahagiaan, hanyalah jika orang tersebut memiliki kesadaran dan keyakinan bahwa sebagai manusia kita memang boleh mempunyai berbagai keinginan tapi untuk memutuskan apakah keinginan itu pantas dan boleh terwujud, hanyalah Tuhan yang berhak menentukannya.

Tentunya kita sendiri punya gambaran mengenai arti kebahagiaan, akan lebih bijaksana jika kita bisa mengartikan sendiri apa itu kebahagiaan. Menurut saya bila kita dapat mencapai keberhasilan spiritual, mental dan material yang berimbang dan dapat mensyukurinya dengan tulus, maka kebahagiaan telah kita dapatkan.

Sumber: The Balance of Life, VP Yance Chan

MENTAL POSITIF MENGHASILKAN SIKAP POSITIF

“Takut akan kemiskinan merupakan kemiskinan tersendiri” –Kahlil Gibran

Musuh terbesar dalam hidup kita adalah sikap mental negatif, pecundang akan selalu memberikan seribu satu alasan mengapa dia gagal melakukan sesuatu, tapi pemenang selalu berusaha mencari jalan keluar mana yang belum ditempuhnya sehingga mencapai keberhasilan.

Sikap positif bisa bertindak membantu kita memanfaatkan kesempatan. Sebaliknya, sikap yang negatif bisa menjadi rintangan yang lebih besar daripada masalah teknis yang memisahkan kita dari tujuan kita. Tidak peduli apakah kita berbakat, cerdas, atau layak, kalau kita punya masalah sikap, bahtera impian kita akan segera tenggelam. Sikap negatif bisa menyedot keyakinan dan keinginan kita untuk mengatasi masalah besar, bahkan tantangan kecil sekalipun yang kita hadapai. ”Sikap positif adalah awal dari segalanya.”

Pikiran negatif merupakan racun dalam kehidupan manusia, kesalahan apapun yang kita lakukan bukan terletak pada apa yang kita kerjakan tetapi pada apa yang kita pikirkan. Pikiran adalah senjata ampuh, dapat mengantarkan kita ke puncak sukses atau menghempas kita ke jurang kegagalan. Jagalah pikiran kita agar tetap sehat, bersih, dan terhindar dari masukan-masukan negatif. Oleh karena besar kemungkinannya pikiran kita akan mudah tercemar masukan negatif dibandingkan dengan masukan positif. Kita lebih suka memandang sesuatu dari faktor kegagalannya dibanding dengan keberhasilannya.

Ketakutan terbesar sebenarnya bukanlah dari luar diri, tapi terletak di dalam diri kita. Pikiran kita yang membuat ketakutan itu timbul, takut itu ada baiknya, tapi ketakutan bisa menyedot keyakinan kita dalam bertindak. Pikiran bawah sadar ita tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah. Jadi jika kita berpikir gunakanlah kemungkinan positif, sebab pikiran kita selalu menyimpan catatan terkhir yang telah kita pikirkan.

Kalau kita cenderung berpikir dari segi gagal, maka yang tersimpan adalah kemungkinan gagal. Sehingga suatu saat bila diperlukan maka memori kita akan mengeluarkan kemungkinan gagal. Cobalah usahakan untuk belajar berpikir dan melihat sesuatu dari sudut pandang possitif. Mungkin ada baiknya kita bisa membaca buku-buku yang berkaitan dengan pikiran.

Sebagai contoh jika kita ingin belajar berenan, tapi pikiran kita selalu mengatakan nanti akan tenggelam, saya berani jamin seratus persen kita akan tenggelam. Oleh karena ketakutan telah mencekam diri kita, pikiran kita telah terkondisikan dengan kata tenggelam. Tapi sebaliknya jika kita berpikir saya pasti bisa, dengan segala cara nantinya kita pasti berhasil bisa berenang. Di bidang apapun ini berlaku, kondisikanlah pikiran kita dengan hal positif.


Sumber: The Balance of Life, VP Yance Chan

HUKUM TABUR-TUAI

Kita manusia hidup di alam kepastian, hukum pasti berlaku di ala mini. Sebagai contoh jika kita menanam jagung sudah pasti jagung yang akan tumbuh nantinya. Jadi mengapa kita masih menyalahkan keadaan, orang lain, nasib atau apapun penyebab kegagalan hidup kita? Ini hanya masalah bagaimana kita menyikapi hidup kita. Hukum pasti ini akan mengikuti hidup kita.

Tidak ada yang menanam jagung, maka padi yang akan dituainya. Begitu pula kita manusia, karena kita adalah bagian dari alamini, sudah pasti kita juga akan terkait dengan hukum pasti ini. Jika kita menanam kebaikan, maka suatu hari nanti kebaikan pula yang akan kita terima sebagai imbalannya. Begitu pula sebaliknya. Rencanakanlah dalam hidup kita untuk menabur benih-benih yang baik, suatu hari nanti kita akan menuai hasil taburan yang telah kita tabur sebelumnya.

Seringkali kita salah kaprah jika melihat seseorang yang kita kenal dahulu, misalnya orang tersebut telah berhasil dalam kehidupannya. Apa yang muncul di benak kita? Ya, kita cenderung menganggap dia beruntung, bukankah begitu? Padahal kita tidak melihat apa-apa yang telah dia tabor. Dia menanam, merawat dengan menyirami dan menjaganya sehingga tidak heran dia akan menuai hasil yang baik. Perlu diingat sekali lagi sudah pasti dia menabur benih baik, dia menanam kebaikan dan kerja keras, merawat dengan sepenuh hati, berjuang dalam persaingan hidup. Jadi sudah sepantasnya jika dia dapat memperoleh kesuksesan, bukan sekedar hanya keberuntingan belaka. Ada harga yang harus kita bayar jika menginginkan kesuksesan. Untuk sebuah kesuksesan kita harus membayar secukupnya. Bahkan Tuhan pun tidak dapat menolong tangan yang malas, kita tetap harus berusaha sebaik mungkin. Tuhan selalu membantu kita pada saat yang tepat, sabarlah dan mencoba untuk mengerti apa yang Tuhan mau untuk hidup kita.

Jangan menyalahkan keadaan atau apapu dalam hidup ini, seringkali kita terjebak dengan kata nasib. Apa yang terjadi di dunia ini adalah tergantung nasib, begitulah ungkapan mereka tentang hidup ini. Percayakah kita terhadap pernyataan tersebut? Apakah nasib itu?

Sumber: The Balance of Life, VP Yance Chan

Rabu, 03 November 2010

TANDA-TANDA POSITIF HARGA DIRI

1. Memiliki kepercayaan yang kuat terhadap nilai dan prinsip tertentu, dan siap mempertahankan nilai dan prinsip itu sekalipun di hadapan pihak yang berlawanan dengannya. Tetapi, lebih dari itu, ia tetap merasa aman untuk mengubah nilai dan prinsip jika data atau pengalaman baru dengan jelas menunjukkan kelirunya nilai dan prinsip yang dipeluknya.

2. Mampu bertindak seturut yang ia pandang pantas dan tepat, percaya pada keputusannya sendiri tanpa dihantui rasa bersalah jika orang ;lain tidak menyetujui tindakannya.

3. Tidak membuang waktu secara berlebihan untuk merasa khawatir akan masa lalu maupun masa depan. Belajar dari masa lalu dan merencanakan masa depan, tetapi tetap hidup dengan sadar dalam kekinian: sekarang ini dan di sini.

4. Percaya pada kemampuan diri untuk memecahkan masalahnya sendiri tanpa gampang kehilangan keberanian di tengah-tengah kesulitan dan kegagalan, tetapi ia juga siap meminta bantuan orang lain ketika ia sungguh memerlukannya.

5. Sebagai seorang pribadi menganggap dan sungguh merasa sejajar dengan orang lain betapa pun mereka begitu penting; ia tidak merasa superior, tetapi juga tidak merasa inferior. Ia juga mengakui perbadaan yang memang ada dalam hal bakat tertentu, status ekonomi mau pun profesi, dan sebagainya.

6. Yakin bahwa ia menarik dan begitu berharga bagi orang lain, sekurang-kurangnya bagi teman dekatnya.

7. Biasanya tidak membiarkan diri dimanipulasi, meskipu tetap mau bekerjasama dan membantu jika dibutuhkan.

8. Sadar diri dan menerima bahwa ada bermacam-macam emosi dan ransangan, baik positif maupun negatif, menyenangkan ataupun tidak, dan siap menyatakannya pada orang lain yang dipercayanya jika ia menganggapnya pantas dan mau menyatakannya.

9. Mampu menikmati kegiatan yang bermacam-macam seperti bekerja, membaca, bermain, bercakap-cakap, berjalan-jalan, dan bahkan ketika ’tidak berbuat apa-apa’ sekalipun.

10. Peka terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain, tanggap pada norma-norma yang masuk akal dan diterimaumum dalam hubungan sosialnya. Memahami benar bahwa ia tidak punya hak untuk mengambil keuntungan dari orang lain atau menyenangkan diri dengan mengorbankan orang lain.

Sumber: Seks Gadis? A. Setyawan

SETIAP ORANG MENGALAMI KESEPIAN

Kalau cinta adalah kekuatan yang menyatukan, tentu ada pengandaian bahwa kita mengalami keterpisahan. Maka, kalau cinta itu memang ada, pengandaiannya ialah bahwa ada orang yang mengalami kekosongan, kesepian, atau keterasingan. Pada kenyataannya, kita terus-menerus mencoba memahami diri kita- siapa kita, mengapa kita melakukan hal-hal yang telah kita lakukan, apa makna hidup kita, apa yang kita inginkan, dan seterusnya. Kita membawa pertanyaan-pertanyaan itu, misalnya pada saat sunyi, sendiri, pada saat mematikan TV atau radio, ketika kita tak mengangkat telepon yang berdering atau setelah menutup gagang telepon, setelah menghadiri pesta, dan sebagainya.

Saya sangat terkesan pada kerendahan hati seorang psikiater ternama, Gerald G. Jampolsky, untuk mengakui bahwa dunia batinnya pernah begitu kacau , kosong, dan tidak bahagia. Ini bukan soal bahwa ia dulu pernah kesepian, melainkan bahwa kesepian itu dilandanya meskipun ia adalah seorang psikiater yang semestinya memahami kejiwaannya sendiri. Psikiater besar ini mengalami perceraian setelah dua puluh tahun menikah. Ia menjadi peminum dan hidupnya begitu menyakitkan sampai ia menyadari sistem pemikiran yang menggunakan kata-kata seperti Tuhan dan Cinta.

Apa tandanya orang mengalami kekosongan atau kesepian itu? Orang tidak tahu apa yang ia inginkan, apa yang ia rasakan, atau apa yang ia yakini. Keyakinan-keyakinan yang selama ini diperolehnya menjadi kabur. Orang mengalami kebingungan, tidak tahu arah, disorientasi, hidup tak bermakna. Tidak hanya itu, orang juga cemas dan takut pada masa depan. Viktor Frankl justru melihat hal ini sebagai ciri manusia modern: mengalami kekosongan ekstensial.

Dalam kondisi demikian, reaksi alamiah kita adalah mencari orang lain. Kita berharap mereka memberikan arah, atau setidaknya kita punya teman dan tidak sendirian dalam ketakutan. Ada dorongan untuk mengalami kesatuan dengan orang lain.

Memang kita hidup dalam kebersamaan dengan orang lain dan, karena itulah , kita bisa berbagi hidup dengan mereka. Celakanya, penerimaan orang lain terhadap diri kita begitu ditekankan dalam masyarakat, sehingga hidup kita ditentukan olehnya. Kita ingin disukai orang lain. Mungkin kita ingin menyenangkan setiap orang yang kita kenal. Bahkan, bisa jadi kita memiliki tujuan hidup untuk menyenangkan orang tua, sahabat, pasangan, dan sebagainya. Setiap keputusan kita ambil dengan kriteria apakah menyenangkan mereka atau tidak. Kalau sampai mereka tidak senang, maka kita mengalami kesepian.

Tentu saja, kita cenderung tidak ingin mengalami kesepian dan, untuk tiu, kita semua sebetulnya memiliki kerinduan akan relasi yang intim. Relasi yang intim ini bukan saja berguna untuk mencari rasa aman atau mengisi kekosongan hidup, tetapi juga untuk mengalami kesejatian diri. Kita dapat menemukan diri kita kalau kita memiliki kesadaran akan diri kita. Kesadaran diri tidak pernah terjadi tanpa relasi dengan orang lain.

Hel itu jelas karena kita dipengaruhi oeh orang di sekeliling kita pada masa awal pembentukan kesadaran. Harga dir kita juga dibentuk pada masa kecil. Kesadaran diri itu pun muncul akibat perjumpaan kita dengan orang lain. Anda menyadari diri laki-laki pada saat bertemu dengan wanita, menyadari diri malas karena melihat orang yang rajin, dan seterusnya.

Meskipun begitu, memang harus kita akui bahwa kesepian adalah bagian dari kondisi manusia. Barangkali kita mudah menyadari kondisi kesepian ini ketika kita berpisah dari orang-orang yang dekat di hati kita. Barangkali kita akan mudah menyadari kesepian itu katika kita hidup sendiri, tanpa orang lain di sekeliling kita.

Sebetulnya ada kondisi kesepian yang seringkali tidak kita sadari dan kesepian itu begitu akut. Kesepian jenis ini tidak pernah dapat diatasi dengan hidup rame-rame. Katakanlah kita tidak bisa hidup sendiri. Kita butuh pendamping. Kita menikah. Ternyata, selama pernikahan itu pun, bisa jadi kita tetap mengalami kesepian.

Maka, dalam arti ini, kesepian bukan soal hidup sendiri atau tidak, melainkan bahwa kita merasa sendiri, merasa diputushubungan dari seseorang atau sesuatu. Ini paling nyata kelihatan pada orang yang diputus pacar, perceraian, dan konflik-konflik yang frontal yang membuat perpisahan tak terelakkan. Kondisi ini bisa menyebabkan orang memiliki kerinduan yang berkepanjangan. Tetapi, terlepas dari kondisi semacam ini, sebenrnya memang manusia menanggung kesepian seumur hidup.

Sumber: Seks Gadis? A. Setyawan

BAGAIMANA MENYAMPAIKAN PUJIAN?

1. Pujian yang sungguh-sungguh meneguhkan seseorang haruslah disampaikan secara autentik dan tulus (bukan basa basi), tidak membesar-besarkan dengan gaya hiperbolis. Maka, tidak ada gunanya memuji orang lain dengan maksud untuk mendapatkan simpati orang lain atau menghindarkan kritik mereka terhadap kita. Pujian hanya berarti jika dilandasi oleh motivasi yang tulus untuk mengapresiasi pribadi yang kita puji apa adanya.
2. aturan dasar dalam seni memuji: menguraikan dan bukannya mengevaluasi atau menilai. Lebih efektif memberitahu perasaan atau keterlibatan kita terhadap pribadi orang lain daripada menilai pekerjaan atau perilakunya. Mengatakan ’Aku senang lihat gambarmu, terutama gambar pohonnya ini’ kiranya lebih efektif daripada menilai ’Kamu memang hebat dalam menggambar’. Mengatakan ’Tulisanmu membuat saya penasaran’ lebih bisa diterima sebagai apresiasi positif daripada ’Kamu memang penulis yang hebat’. Ungkapan pertama menunjukkan adanya unsur perhatian dan keterlibatan orang yang memuji.


BAGAIMANA MENERIMA PUJIAN?

1. Sebagaimana kritik, pujian dari orang lain juga hanyalah ungkapan kesan terhadap sebagian kualitas pribadi kita. Orang lain tentu tidak secara penuh memahami segala aspek diri kita. Maka, pujiannya pun hanyalah berkenaan dengan satu atau dua hal dari kepribadian kita. Kesadaran ini membantu kita untuk tidak menjadi besar kepala karena di samping kekuatan, kita juga memiliki kelemahan yang barangkali tidak dilihat oleh orang lain.
2. Terima segala pujian jika kita tidak beralasan untuk meragukan ketulusan pujian itu. Akui pujian itu dengan ungkapan sederhana ’Terima kasih, aku senang kamu mengatakannya’, dengan bahasa tubuh (senyuman atau pandangan mata yang bernuansa terima kasih)
3. tidak perlu terburu-buru untuk mengembalikan pujian kepada orang lain, seolah-olah kita wajib membalas pujian secepat mungkin. Dalam kondisi demikian, kita justru cenderung memberikan pujian yang tidak tulus. Misalnya, ketika orang lain memberikan kesannya bahwa kita begitu rajin, kita segera mencari perbandingan pada diri orang itu, ”Kamu juga rajin kok.” Pujian belum kita terima, tetapi kita justru balik ’memuji’ karena merasa ’berhutang budi’ telah dipuji.


Sumber: Seks Gadis? A. Setyawan

Senin, 25 Oktober 2010

TIDAK MAU KELUAR DARI ZONA NYAMAN

Inilah salah satu alasan utama yang biasa ditemukan pada orang-orang tertentu yang tidak mau berubah. Kita merasa telah mapan atas pilihan kita, kita merasa bahwa jalan hidup yang dipilih saat ini adalah yang terbaik. Kita tidak mau dan tidak mungkin berubah dengan meninggalkan sesuatu yang sudah pasti, untuk kemudian mencoba atau melakukan sesuatu yang belum pasti. Kita tak mau mengambil resiko dengan mencoba sesuatu yang baru. Kita sering berdalih, ”Saya lahir dan dibesarkan di sini, karena itu, bagaimanapun keadaan hidup saya, saya tidak akan meninggalkan tempat ini.” dan dalih lainnya.

Banyak orang yang tidak mau berubah dalam cara mendapatkan rezeki, meskipun cara itu haram, bertentangan dengan hukun Tuhan, karena ia telah merasa nyaman dengan apa yang dilakukannya selama ini. Banyak orang yang tidak mau mengubah perilaku buruknya seperti suka mengunjing, meremehkan orang lain,karena telah merasa nyaman dengan perilaku buruk tersebut. Ada orang yang cenderung menerima begitu saja kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan, karena tidak mau lagi keluar dari keadaan yang sedemikian menyatu dengan diri dan kehidupannya, meskipun tidak ada kemajuan apapun di dalam kehidupannya.

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat menulis tentang ‘zona nyaman’ dan kecenderungan manusia terhadapnya, sebagai berikut:
”Istilah zona nyaman populer di kalangan psikolog. Istilah ini menunjuk pada keadaan, situasi dan wilayah yang dirasakan mendatangkan rasa nyaman, aman, dan tidak berbahaya bagi seseorang, sehingga ia enggan keluar dari wilayah tersebut. Namun, sesungguhnya kenyamanan itu belum tentu sejati, sebab bisa saja menipu dan membatasi terbukanya peluang untuk memperoleh kemajuan dan kebahagiaan yang lebih tinggi. Terdapat beragam zona nyaman yang selalu dipagari oleh seseorang dan pintunya pun ditutup rapat-rapat agar tidak terganggu orang lain, ataupun masuknya gagasan caru yang menggelisahkan... Seseorang yang sudah belasan tahun menekuni sebuah karir atau profesi, akan gamang hatinya untuk memasuki atau pindah pada professi baru. Seseorang yang biasa dielukan di lingkungan sosialnya, bisa jadi akan canggung diperlakukan seperti orang lain yang tidak memiliki status sosial tinggi.

Jika kita ingin meraih keberhasilan yang lebih besar, kehidupan yang lebih maju, baik materi maupun spiritual dan kebahagiaan sejati, maka boleh jadi salah satu cara yang dituntut dari kita adalah keberanian untuk melepaskan diri dari zona nyaman itu, lalu bersedia menghadaoai tantangan baru, memulai sesuatu yang baru yang lebih menjanjkan masa depan dan berani mengambil resiko. Inilaih yang dilakukan banyak orang sukses.


Sumber: Life Must Go On, M. Rusli Amin, MA.

MEMANDANG RINGAN SEGALA COBAAN

Di antara sarana yang paling bermanfaat untuk sirnanya keguncangan manakala seorang hamba tertimpa aneka bencana adalah hendaknya ia berupaya memandang dan menjadikannya ringan. Yaitu, dengan mengandaikan atau membayangkan kemungkinan yang lebih buruk dari yang telah terjadi, dan ia kuatkan hatinya dalam menghadaoinya. Jika ia lakukan itu, hendaknya ia berupaya, sejauh kemungkinan, untuk meringankan apa yang mungkin diringankan. Maka, dengan penguatan hati dan upaya yang bermanfaat semacam ini akan hilanglah kegelisahan dan kegundahannya, dan berganti menjadi upaya keras untuk meraih berbagai hal yang bermanfaat dan menangkis berbagai madharat yang menimpa hamba.

Lalu, jika ia terhampiri beberapa penyebab ketakutan, penyebab sakit, penyebab kemiskinan dan ketaktercapainya aneka hal yang disenangnya, hendaklah menghadapinya dengan tenang dan menguatkan hati. Karena, menguatkan hati dalam menanggung derita cobaan akan meringankannya dan menghilangkan tekanannya. Terutama jika iaa menyibukkan dirinya untuk menangkis cobaan itu sebatas kemampuannya. Dengan itu, menyatulah dalam dirinya tekad mengukuhkan batin seiring berupaya yang bermanfaat, yang hal itu akan membuatnya tidak kalut oleh berbagai musibah.

Ia tekan dirinya agar memperbaharui kekuatannya untuk melawan berbagai cobaan dan bencana, seiring bersandar dan percaya penuh pada Tuhan. Tidak diragukan, bahwa upaya-upaya ini memiliki manfaat yang sangat agung untuk terwujudnya kegembiraan dan kelapangan dada, di samping ia pun terus berharap pahala, baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini sudah dicoba dan disaksikan keberhasilannya. Bukti-bukti keberhasilanya bagi mereka yang telah mencobanya banyak sekali.

Sumber: 23 Kiat Hidup Bahagia, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di

JANGAN MENUNGGU ADA KEPERLUAN BARU MENJALIN HUBUNGAN

Richard Carlson Ph.D menulis sebagai berikut:

“Begitu banyak di antara kita yang menunggu sampai kita benar-benar membutuhkan sesuatu dari seseorang, sebelum kita sempat kenal dengan orang itu. Sesungguhnya ini barangkali saat yang paling tidak tepat untuk mulai berkenalan. Jika anda membutuhkan sesuatu dari seseorang, dan ia tahu tentang itu, ia akan menigkatkan kewaspadaan, bahkan bersifat defensif, dalam upaya menentukan apakah anda tulus atau tidak. Memang, orang akan jauh llebih senang bila anda tidak membutuhkan apapun dari mereka... Walaupun akhirnya bersedia menolong, tidak seorangpun benar-benar mau kenal dengan anda, menerima kebaikan anda ketika anda memerlukan sesuatu dari mereka. Anda dicap tidak tulus, bila anda bersikap ramah hanya karena anda mengingikan sesuatu dari mereka. Tentu saja lebih baik bila anda mulai kenal sekarang daripada tidak sama sekali, tetapi jauh lebih baik, bila orang yang anda butuhkan sempat kenal bahwa anda orang baik dan tulus. Mengapa tidak mulai sekarang saja menunjukkan kepada semua orang bahwa anda orang baik?”

Ya, mengapa tidak mulai sekarang saja kita mengenal orang lain sebanyak-banyaknnya? Mengapa tidak mulai dari sekarang saj kita menjadi orang yang suka menyapa? Berilah, tanpa menunggu jika akan diberi atau jika mau dibalas. Balaslah senyuman orang, meskipun dari seorang yang tidak memberi materi pada kita. Jawablah telepon meskipun dari orang yang tidak atau belum kita kenal. Inti dari semua ini adalah ’jangan menunggu ada keperluan, baru mau menjalin hubungan’.

Sikap seperti inilah yang banyak kita temukan di mana-mana. Ketika ada keperluan, terlihatlah seseorang menjadi sangat dekat dengan orang yang diperlukan. Sayangnya, semua sikap dan perbuatan baik itu hanya didasari oleh adanya kepentingan pribadi yang lebih besar.

Ingatlah, biasanya orang yang menjadi baik terhadap seseorang hanya karena ada kepentingan tertentu, dan bila kepentingannya telah terpenuhi, maka kebaikannya tidak kelihatan lagi.

Menjalin hubungan dengan orang lain karena ada kepentingan sesaat, akan berdampak pada lahirnya hubungan yang semu antar manusia, karena dibangun di atas landasan yang tidak ikhlas, tidak tulus. Perbuatan seperti ini menunjukkan bahwa kita memperlakukan orang lain tidak lebih dari sekedar komoditas. Dan hal ini juga akan berimplikasi pada sikap memilih orang yang mau dikenal, yaitu hanya orang yang akan mendatangkan keuntungan kepadanya.

Jangan menunggu ada keperluan kita pada orang lain, baru mau menjalin hubungan. Jangan menunggu ada keperluan baru menyatakan cinta dan sayang. Jangan menunggu.


Sumber: Life Must Go On, M. Rusli Amin, MA.

BERGURU PADA KESENGSARAAN

“Kemakmuran adalah guru yang baik, namun kesengsaraan adalah guru terbaik.” ~William Hazlitt

Dalam keadaan makmur, senang berkecukupan, uang banyak, makanan cukup, kita bisa memperoleh banyak manfaat, tapi mungkin hanya sedikit pelajaran atau hikmah. Sebab biasanya ‘kemakmuran’ cenderung membuat manusia lengah atau lalai dan mudah lupa diri.

Tentu, kita akan menjadi sangat senang jika hidup berkecukupan, sebab kita tidak dirisaukan dengan memikirkan uang kontrakan rumah, risau akan makan apa, karena semua telah ada.

Harus dikaui bahwa kemakmuran materi bisa membuat seseorang menjadi baik di dalam beragama. Tapi, tidak semua demikian. Banyak orang yang bergelimang harta yang tidak pernah dekat pada Tuhan.

Tentu, kemakmuran materi membuat kita semakin patuh pada ajaran-ajaran Tuhan, apabila kita adalah seseorang yang beriman. Memang, ’sebaik-baiknya harta adalah harta yang baik yang ada di tangan orang sholeh’.

Alangkah baiknya beribadah dalam keadaan kenyang. Betapa banyak orang yang hidupnya menderita. Para fakir dan miskin yang bisa ditolong oleh orang beriman yang hartawan. Kita bisa membantu kegiatan sosial keagamaan yang memerlukan materi, juga pengembangan pendidikan.

Memang, kita bisa belajar dari kemakmuran untuk menjadi manusia yang pandai mensyukuri nikmat Tuhan, karena ketika melihat keadaan orang yang sengsara, kita pun berterima kasih pada Tuhan atas karuniaNya. Tapi, saya ingin menegaskan bahwa tidak semua orang berhasil belajar atau berguru dari kemakmuran atau kesenangan.

Berikut penuturan Jean Jacoues Rousseau:

“Anak-anak yang paling malang nasibnya adalah anak yang dibuai dalam pangkuan kesenangan dan kemewahan, tanpa diberi kesempatan untuk menghadapi dingin dan hangatnya kehidupan, menuruni dan mendekati alam. Anak-anak seperti itu, akan menghadapi berbagai kesulitan dengan kepekaan yang tinggi, dan akan menghadapi kelezatan hidup dengan lupa diri. Mereka tak ubahnya seperti cabang kecil di sebuah pohon yang rapuh dan siap rontok hanya dengan terpaan angin. Suatu kejadian, betapapun kecilnya, akan mengakibatkan mereka begitu menderita, dan cukup mendorong mereka untuk bunuh diri.”

’kesengsaraan adalah guru terbaik’ ini adalah pernyataan yang kebenarannya tidak diragukan lagi, karena sudah terrlalu banyak manusia yang bangkit dan meraih keberhasilan setelah ditempa berbagai kesulitan.

Samuel Smith menulis, ”Kesukaran dan kesulitan merupakan batu loncatan moralitas. Sebagaimana sebagian tanaman harus dipelintir untuk mengeluarkan wanginya, demikian juga manusia harus mengalami kesulitan, supaya bakatnya yang hakiki dan keutamaannya terwujud. Tidak ada keenakan dan kesenangan di dunia yang tidak berubah menjadi kepedihan dan kesukaran. Demikian pula, tidak ada kesukaran yang akhirnya tidak menjurus pada kesenangan dan kebahagiaan.”

Kata Kurtadha Muthahhari, ”Pada dasarnya, kemalangan dan kesengsaraan itu merupakan pendahulu bagi terwujudnya sesuatu yang indah. Di relung kesulitan hidup dan bencana lah, kebahagiaan dan kesejahteraan itu tersembunyi. Sebagaimana, terkadang bencana-bencana itu tersembunyi di relung kebahagiaan.”

”Setelah menuruni lembah yang terdalam, barulah anda dapat menilai keindahan gunung yang tinggi. Ketika sulit, keunggulan anda terlihat, kentara dan teruji. Anda memerlukan sebanyak mungkin penglaman pahiht untuk melahirkan keunggulan.” Richard Nixon berkata.

Kata Dr. Booker T. Washington, ”Saya telah mendapati, bahwa ukuran kesuksesan bukan sekedar tergantung pada prestasi yang telah dicapai, tetapi juga tergantungg pada berapa kali dan berapa tahap kesukaran telah diatasi dalam mencapai kedudukan itu,”

Yang terpenting bagia kita ketika mengalami kesulitan, kegagaan, adalah ’bagaimana kemampuan kita untuk bangkit mengatasi kesulitan’ itu. Kata Billi PS. Lim, ”Sebagian orang, apapbila gagal lalu terpuruk di dalam kegagalan itu. Sebagian yang lain, belajar darinya dan terus maju.”

Apa yang akan anda kerjakan, jika anda terlahir ke dunia sebagai seseorang yang cacat? Tentu, ada pekerjaan yang pasti bisa anda lakukan sesuai kondisi keterbatasan fisik anda. Namun selalu ada keajaiban di dalam dunia ini. Ketika kita menilai seseorang takkan mampu melakukan sesuatu secara logis, akan tetap ada seseorang yang mampu menepis penilaian itu.

Henry Ford pun pernah mengungkapkan, ”Kegagalan adalah peluang untuk memulai lebih pintar.”


Sumber: Life Must Go On, M. Rusli Amin, MA.

Sabtu, 23 Oktober 2010

LIE AND NUCLEAR

Dusta dan nuklir. Sebelumnya aku telah meminta pada kalian untuk sedikit memikirkan apa hubungan keduanya yang tentu saja, mungkin untuk kita temukan.

Sebenanrnya inti dari semua itu adalah tentang dusta itu sendiri.

Begini, jujur saja aku merupakan orang yang sangat tidak setuju bahwa kebohongan atau dusta itu sesuatu yang benar-benar merupakan suatu hal buruk untuk dilakukan. Sebagaimana ajaran agama dan logika di luar sana yang menyebutkan bahwa kebohongan merupakan satu tindakan tercela. Namun aku selalu percaya ada suatu pengecualian dalam hidup ini. Tak ada yang mutlak. Begitu pula menurutku pada dusta.

Dusta bukanlah sesuatu yang seratus persen buruk untuk dilakukan. Ia hanyalah sesuatu yang berbahaya dan beresiko untuk dilakukan. Ia juga bukan merupakan suatu tindak kejahatan, karena kebohongan dapat dilakukan atas dasar kebaikan.

Dan jikalau sebelumnya aku menanyakan apa hubungan dusta dan nuklir, tentunya mereka hanya bisa dikaitkan dengan filosofi akan kesamaan sifat. Sederhana saja.

Noble yang jumawa itu tentu saja menemukan nuklir dengan tujuan yang mulia, yaitu demi kebaikan seluruh umat manusia. Namun tanpa ia sadari, ia juga telah menemukan senjata paling ampuh untuk menciptakan prahara terbesar sepanjang masa. Begitu pulalah aku memandang dusta. Sebagai sesuatu yang selama ini telah dengan sangat salah dipergunakan sebagai alat untuk menutupi kenyataan dengan sesuatu yang maya, untuk kepentingan yang salah pula. Karena terlalu banyak permasalahan yang diawali dari sebuah kebohongan, maka manusia pun cenderung akan menilai ia sebagai sesuatu yang secara mutlak merugikan bagi manusia. Namun andai mereka mau sedikit merenungkan alasan yang ada di balik setiap dusta, setiap alasan yang mungkin untuk diberikan, sebenarnya masih ada jalan terang di sana. Ada sebuah kebaikan di balik kebohongan.

Namun sebagaimana telah aku katakan, berbohong merupakan tindakan yang berbahaya. Itu dikarenakan pandangan orang yang juga salah akan dusta tersebut. Bila orang mengetahui bahwa orang lain telah berbohong padanya, tanpa alasan yang jelas pun, bisa dipastikan ia akan berpikiran buruk pada orang yang berbohong tersebut. Terkadang tanpa mau tahu sedikit pun alasan yang melatarbelakanginya.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Andai anda memiliki sesuatu yang patut anda simpan dalam hati, cukuplah menjadi diam. Anda tak perlu mengatakan sesuatu secara gamblang dan rapi namun bukanlah kenyataan. Ada baiknya jika kita dapat lebih berhati-hati dalam menghindari segala sesuatu yang dapat memancing keingintahuan orang terhadap rahasia kita tersebut. Tentu saja, saya percaya anda melakukannya demi sebuah kebaikan.

Apakah kita tak bisa hidup sejujur-jujurnya dalam hidup ini? Kita bisa hidup dengan kejujuran penuh, namun itu hanya akan membawa masalah lain dalam hidup. Mengapa?

Sehari saja kita hidup sejujur-jujurnya dalam mengungkap segala perasaan dan pemikiran, hidup kita akan menjadi gemerlap seketika, namun perlahan meredup, seredup-redupnya.

With much love and happyness,

Kusuma